*oleh : Rini Setyowati, Haniah Nurlali, Diah Ayu Wulandari FKIP Geografi UNS
Semakin tertinggalnya pendidikan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain, harusnya membuat kita lebih termotivasi untuk berbenah diri. Banyaknya masalah pendidikan yang muncul ke permukaan merupakan gambaran praktek pendidikan kita. Sebagai siswa dan sekaligus sebagai calon pendidik, kami merasakan ketimpangan-ketimpangan pendidikan, seperti :
1. Kurikulum
Kurikulum kita yang dalam jangka waktu singkat selalu berubah-ubah tanpa ada hasil yang maksimal dan masih tetap saja. Gembar-gembor kurikulum baru, katanya lebih baiklah, lebih tepat sasaran. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dalam mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum. Perubahan kurikulum yang terus-menerus, pada prateknya kita tidak tau apa maksudnya dan yang beda hanya bukunya.
Pemerintah sendiri seakan tutup mata, bahwa dalam prakteknya Guru di Indonesia yang layak mengajar hanya 60% dan sisanya masih perlu pembenahan. Hal ini terjadi karena pemerintah menginkan hasil yang baik tapi lupa dengan elemen-elemen dasar dalam pendidikan. Contohnya guru, banyak guru honorer yang masih susah payah mencukupi kebutuhannya sendiri. Kegagalan dalam kurikulum kita juga disebabkan oleh kurangnya pelatihan skill, kurangnya sosialisasi dan pembinaan terhadap kurikulum baru. Elemen dasar ini lah yang menentukan keberhasilan pendidikan yang kita tempuh. Menurut slogan jawa, guru itu digugu dan ditiru, tapi fakta yang ada, banyak masyarakat yang memandang rendah terhadap profesi guru, padahal tanpa guru kita tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini.
2. Biaya
Akhir-akhir ini biaya pendidikan semakin mahal, seperti mengalami kenaikan BBM. Banyak masyarakat yang memiliki persepsi pendidikan itu mahal dan lebih parahnya banyak pula pejabat pendidikan yang ngomong, kalau pengen pendidikan yang berkualitas konsekuensinya harus membayar mahal. Pendidikan sekarang ini seperti diperjual-belikan bagi kalangan kapitalis pendidikan dan pemerintah sendiri seolah membiarkan saja dan lepas tangan.
Sekarang ini memang digalakan program wajib belajar 9 tahun dengan bantuan Bos. Tapi bagaimana dengan daerah-daerah yang terpencil nan jauh disana?? Apa mereka sudah mengenyam pendidikan?? Padahal mereka sebagai WNI berhak mendapatkan pendidikan yang layak.
Akhir-akhir ini pemerintah dalam system pendidikan yang baru akan membagi pendidikan menjadi dua jalur besar, yaitu jalur formal standar dan jalur formal mandiri. Pembagian jalur ini berdasarkan perbedaan kemampuan akademik dan finansial siswa. Jalur formal mandiri diperuntukkan bagi siswa yang mapan secara akademik maupun finansial. Sedangkan jalur formal standar diperuntukkan bagi siswa yang secara finansial bisa dikatakan kurang bahkan tidak mampu. Hal ini saya rasa sangat konyol, bukankah kebijakan ini sama saja dengan mengotak-kotakan pendidikan kita, mau dikemanakan pendidikan kita bila kita terus diam dan pasrah menerima keputusan Pemerintah?? Ironis sekali bila kebijakan ini benar-benar terjadi.
3. Tujuan pendidikan
Katanya pendidikan itu mencerdaskan, tapi kenyataannya pendidikan itu menyesatkan. Bagaiamana tidak? Lihat saja kualitas pendidikan kita hanya diukur dari ijazah yang kita dapat. Padahal sekarang ini banyak ijazah yang dijual dengan mudahnya dan banyak pula yang membelinya (baik dari masyarakat ataupun pejabat-pejabat). Bukankah ini memalukan?? Berarti kalau kita punya uang maka kita tidak usah sekolah tapi sama dengan yang sekolah karena memiliki ijasah. Harusnya pendidikan itu menciptakan siswa yang memiliki daya nalar yang tinggi, memiliki analisis tentang apa yang terjadi sehingga bila di terjunkan dalam suatu permasalahan dapat mengambil suatu keputusan.
4. Disahkannya RUU BHP menjadi Undang- Undang
DPR RI telah mensahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Badan Hukum Pendidikan (BHP) menjadi Undang-Undang. Selama tiga tahun itupula, UU yang berisi 14 bab dan 69 pasal banyak mengalami perubahan. Namun, disahkannya UU BHP ini banyak menuai protes dari kalangan mahasiswa yang khawatir akan terjadinya komersialisasi dan liberalisasi terhadap dunia pendidikan.
|Rabu, 17 Desember 2008, suara mahasiswa Universitas Indonesia yang memprotes pengesahan RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) sudah semakin tipis. Namun, teriakan tetap mereka lantangkan di lobi Gedung Nusantara II DPR, Rabu (17/12) sore.
Ketua BEM UI 2008 Edwin Nafsa Naufal mengatakan, mereka sudah mengawal pembahasan RUU ini selama 3 tahun. Bahkan, sebuah konsep tandingan sudah disiapkan. Segala aspirasi dan masukan, sudah disampaikan kepada Pansus RUU BHP.
Hal yang dikhawatirkan, undang-undang baru ini akan membuat biaya pendidikan semakin mahal dan tidak terakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Anggapan mahasiswa ini, dikatakan Ketua Pansus RUU BHP Irwan Prayitno, salah besar. Pendanaan. 20 persen operasional dibiayai pemerintah. Untuk investasi dan bangunan seluruhnya dibiayai pemerintah.
UU BHP juga menetapkan perguruan tinggi negeri atau PTS wajib memberikan beasiswa sebesar 20 persen dari seluruh jumlah mahasiswa di lembaganya. Namun, jika ternyata Perguruan Tinggi yang terkait tidak mempunyai dana yang mencukupi, untuk memberikan beasiswa, akhirnya dana tersebut akan dibebankan kepada mahasiswa lagi. UU BHP ini akan menjadi kerangka besar penataan organisasi pendidikan dalam jangka panjang. UU BHP sendiri saat ini sedang dalam proses mencari input. Jadi, untuk memperkuat status hukum PT BHMN, ia akan diatur dalam UU BHP.
5. Kontoversi diselenggaraknnya UN
Perdebatan mengenai Ujian Nasional (UN) sebenarnya sudah terjadi saat kebijakan tersebut mulai digulirkan pada tahun ajaran 2002/2003. UN atau pada awalnya bernama Ujian Akhir Nasional (UAN) menjadi pengganti kebijakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas). Dari hasil kajian Koalisi Pendidikan (Koran Tempo, 4 Februari 2005), setidaknya ada empat penyimpangan dengan digulirkannya UN. Pertama, aspek pedagogis. Dalam ilmu kependidikan, kemampuan peserta didik mencakup tiga aspek, yakni pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif). Tapi yang dinilai dalam UN hanya satu aspek kemampuan, yaitu kognitif, sedangkan kedua aspek lain tidak diujikan sebagai penentu kelulusan. Kedua, aspek yuridis. Beberapa pasal dalam UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 telah dilanggar, misalnya pasal 35 ayat 1 yang menyatakan bahwa standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan, yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. UN hanya mengukur kemampuan pengetahuan dan penentuan standar pendidikan yang ditentukan secara sepihak oleh pemerintah. Pasal 58 ayat 1 menyatakan, evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Kenyataannya, selain merampas hak guru melakukan penilaian, UN mengabaikan unsur penilaian yang berupa proses. Selain itu, pada pasal 59 ayat 1 dinyatakan, pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Tapi dalam UN pemerintah hanya melakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa yang sebenarnya merupakan tugas pendidik.
Ketiga, aspek sosial dan psikologis. Dalam mekanisme UN yang diselenggarakannya, pemerintah telah mematok standar nilai kelulusan 3,01 pada tahun 2002/2003 menjadi 4,01 pada tahun 2003/2004 dan 4,25 pada tahun 2004/2005. Ini menimbulkan kecemasan psikologis bagi peserta didik dan orang tua siswa. Siswa dipaksa menghafalkan pelajaran-pelajaran yang akan di-UN-kan di sekolah ataupun di rumah.
Keempat, aspek ekonomi. Secara ekonomis, pelaksanaan UN memboroskan biaya. Tahun 2005, dana yang dikeluarkan dari APBN mencapai Rp 260 miliar, belum ditambah dana dari APBD dan masyarakat. Pada 2005 memang disebutkan pendanaan UN berasal dari pemerintah, tapi tidak jelas sumbernya, sehingga sangat memungkinkan masyarakat kembali akan dibebani biaya. Selain itu, belum dibuat sistem yang jelas untuk menangkal penyimpangan finansial dana UN. Sistem pengelolaan selama ini masih sangat tertutup dan tidak jelas pertanggungjawabannya. Kondisi ini memungkinkan terjadinya penyimpangan (korupsi) dana UN.
6. Kesrusakan fasilitas sekolah
Nanang Fatah, pakar pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan, sekitar 60 persen bangunan sekolah di Indonesia rusak berat. Di wilayah Jabar, sekolah yang rusak mencapai 50 persen.
Kerusakan bangunan sekolah tersebut berkaitan dengan usia bangunan yang sudah tua. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sejak tahun 2000-2005 telah dilaksankan proyek perbaikan infrastruktur sekolah oleh Bank Dunia, dengan mengucurkan dana Bank Dunia pada Komite Sekolah.
Menurut saya, kerusakan bangunan pendidikan jelas akan mempengaruhi kualitas pendidikan karena secara psikologis seorang anak akan merasa tidak nyaman belajar pada kondisi ruanagan yang hamper roboh.
Bangsaku bangkitlah dengan Pendidikanmu, agar kita menjadi singa yang siap mengaung keseluruh dunia bukan seperti kambing yang selalu malu menunjukan dirinya.
Sumber:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/17/16114897/mahasiswa.khawatir.uu.bhp.bikin.pendidikan.semakin.mahal.
http://www.geramtolakbhp.blogspot.com/Potret Dunia Pendidikan Indonesia
http://mybluegreen.net/serbaneka/potret-dunia-pendidikan-indonesia/
http://beritasore.com/2007/07/03/uu-bhp-tidak-mengarah-privatisasi-perguruan-tinggi/
Tags: Masalah Pendidikan
May 1st, 2009 at 8:42 pm
saya sangat terkesan membaca artikel yang dibuat oleh kwn2 FKIP UNS. yah permasalahan pendidikan di Indonesia memang tidak ada habisnya jika di diskusikan atau di tulis karena begitu banyaknya…
hal inilah tentunya yang harus diperhatikan oleh Mahasiswa sebagai MAHA dari segala siswa, sebagai Intelektual muda dan tentunya sebagai AGEN PERUBAHAN.
jika melihat perjalanan bangsa Indonesia dari jaman kolonial sampai sekarang, peran pemuda dan mahasiswa sangat besar di sana kita kenal yang namanya Sukarno, Hata,Tirto Adisuryo, Tan Malaka dan lain2 mreka patut kita contoh, mereka mampu mendirikan bangsa Indonesia dan melepaskan diri dari penjajahan nah mengapa mahasiswa jaman sekarang tidak????????
akhir kata saya ucapkan selamat Hari Pendidikan Nasional dan tetap semata HIDUP MAHASISWA INDONESIA
May 7th, 2009 at 4:56 pm
Masalah Pendidikan di Indonesia*
sim on January 5th, 2009
Membedah Kurikulum Berbasis Kompetensi
M Ihsan Dacholfany M.Ed
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. berbangsa, dan bernegara di dalam negeri dan isu-isu mutakhir dari luar negeri yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia merupakan hal-hal yang harus segera ditanggapi dan dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum baru pada setiap jenjang pendidikan.
Beberapa hal yang melatarbelakangi penyusunan kurikulum baru antara lain:
Adanya peraturan penundang-undangan yang baru telah membawa implikasi terhadap paradigma pengembangan kurikulum pendidikan dasar dan menengah antara lain pembaharuan dan divensifikasi kurikulum, serta pembagian kewenangan pengembangan kurikulum.
Perkembangan dan perubahan global dalam berbagai aspek kehidupan yang datang begitu cepat telah menjadi tantangan nasional dan menuntut perhatian segera dan serius.
Kondisi masa sekarang dan kecenderungan di masa yang akan datang perlu dipersiapkan generasi muda termasuk peserta didik yang memiliki kompetensi yang multidimensional.
Pengembangan kurikulum harus dapat mengantisipasi persoalan-persoal-an yang mempunyai kemungkinan besar sudah dan/atau akan terjadi.
Kurikulum yang dibutuhkan di masa depan adalah kurikulum yang mampu memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidakmenentuan, ketidakpastian, dan kesulitan dalam kehidupan. Oleh karena itu kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Penyempurnaan kurikulum dilakukan secara responsif terhadap penerapan hak asasi manusia, kehidupan demokratis, persatuan dan kesatuan, kepastian hukum, kehidupan beragama dan ketahanan budaya, pembangunan daerah, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, serta pengelolaan lingkungan.
Kurikukulum Berbasis Kompetensi ini sebenarnya memiliki justifikasi didaktis pedagogis yang kuat untuk menggantikan Kurikulum 1994, karena pendidikan dengan kurikulum 1994 ternyata tidak melahirkan unjuk kerja siswa secara bermakna. Siswa banyak tahu informasi, tetapi tidak bermakna bagi kehidupannya.
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas tentang kurikulum berbasis kompetensi, munculah beberapa permasalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu: Apakah yang dimaksud dengan kurikulum berbasis kompetensi? Apa bedanya dengan kurikulum sebelumnya? Apakah kelebihan dan kekurangan KBK?
C. Ruang Lingkup Materi
Pada makalah ini materi yang akan dibahas meliputi:
1. Pengertian kurikulum dan kurikulum berbasis kompetensi
2. Perbandingan kurikulum 1994 dengan KBK
3. Komponen utama KBK
4. Kelebihan dan kelemahan KBK
II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Kurikulum
Hilda Taba (1962) mengemukakan bahwa:
“A curriculum usually contains a statement of aims and of specific objectives; it indicates some selection and organization of content; it either implies or manifests certain patterns of learning and teaching, whether because the objectives demand them or because the content organization requires them. Finally, it includes a program of evaluation of the outcomes”
Pengertian kurikulum menurut Hilda Taba di atas menekankan pada tujuan suatu statemen, tujuan-tujuan khusus, memilih dan mengorganisir suatu isi, implikasi dalam pola pembelajaran dan adanya evaluasi. Sementara Unruh dan Unruh (1984) mengemukakan bahwa “curriculum is defined as a plan for achieving intended learning outcomes: a plan concerned with purposes, with what is to be learned, and with the result of instruction”. Ini berarti bahwa kurikulum merupakan suatu rencana untuk keberhasilan pembelajaran yang di dalamnya mencakup rencana yang berhubungan dengan tujuan, dengan apa yang harus dipelajari, dan dengan hasil dari pembelajaran.
Olivia (1997) mengatakan bahwa we may think of the curriculum as a program, a plan, content, and learning experiences, whereas we may characterize instruction as methods, the teaching act, implementation, and presentation. Olivia termasuk orang yang setuju dengan pemisahan antara kurikulum dengan pengajaran dan merumuskan kurikulum sebagai a plan or program for all the experiences that the learner encounters under the direction of the school.
Pendapat yang sedikit berbeda tentang kurikulum dikemukakan oleh Marsh (1997), dia mengemukakan bahwa kurikulum merupakan suatu hubungan antara perencanaan-perencanaan dengan pengalaman-pengalaman yang seorang siswa lengkapi di bawah bimbingan sekolah. Senada dengan Marsh, Schubert (1986) mengatakan the interpretation that teachers give to subject matter and the classroom atmosphere constitutes the curriculum that students actually experience.
Pengertian di atas menggambarkan definisi kurikulum dalam arti teknis pendidikan. Pengertian tersebut diperlukan ketika proses pengembangan kurikulum sudah menetapkan apa yang ingin dikembangkan, model apa yang seharusnya digunakan dan bagaimana suatu dokumen harus dikembangkan. Kebanyakan dari pengertian itu berorientasi pada kurikulum sebagai upaya untuk mengembangkan diri peserta didik, pengembangan disiplin ilmu, atau kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik untuk suatu pekerjaan tertentu
Selanjutnya Dool (1993) memperkuat pendapatnya tentang kurikulum yang ada sekarang dengan mengatakan:
”Education and curriculum have borrowed some concepts from the stable, nonechange concept - for example, children following the pattern of their parents, IQ as discovering and quantifying an innate potentiality. However, for the most part modernist curriculum thought have adopted the closed version, one where - trough focusing - knowledge is transmitted, transferred. This is, I believe, what our best contemporary schooling is all about. Transmission frames our teaching-learning process”.
Dengan transfer dan transmisi maka kurikulum menjadi suatu focus pendidikan yang ingin mengembangkan pada diri peserta didik apa yang sudah terjadi dan berkembang di masyarakat. Kurikulum tidak menempatkan peserta didik sebagai subjek yang mempersiapkan dirinya bagi kehidupan masa dating tetapi harus mengikuti berbagai hal yang dianggap berguna berdasarkan apa yang dialami oleh orang tua mereka.
Dalam konteks ini maka disiplin ilmu memiliki posisi sentral yang menonjol dalam kurikulum. Kurikulum, dan pendidikan, haruslah mentransfer berbagai disiplin ilmu sehingga peserta didik menjadi warga masyarakat yang dihormati.
Sehubungan dengan banyaknya definisi tentang kurikulum, dalam implementasi kurikulum kiranya perlu melihat definisi kurikulum yang tercantum dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (19) yang berbununyi: kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Lebih lanjut pada pasal 36 ayat (3) disebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
a. peningkatan iman dan takwa;
b. peningkatan akhlak mulia;
c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
d. keragaman potensi daerah dan lingkungan;
e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
f. tuntutan dunia kerja;
g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
h. agama;
i. dinamika perkembangan global; dan
j. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
Pasal ini jelas menunjukkan berbagai aspek pengembangan kepribadian peserta didik yang menyeluruh dan pengembangan pembangunan masyarakat dan bangsa, ilmu, kehidupan agama, ekonomi, budaya, seni, teknologi dan tantangan kehidupan global. Artinya, kurikulum haruslah memperhatikan permasalahan ini dengan serius dan menjawab permasalahan ini dengan menyesuaikan diri pada kualitas manusia yang diharapkan dihasilkan pada setiap jenjang pendidikan.
B. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Kurikulum berbasis kompetensi mulai diterapkan di Indonesia pada tahun pelajaran 2001/2002 dibeberapa sekolah SD, SMP, dan SMA yang ditunjuk oleh pemerintah dan atau atas inisiatif sekolah sendiri yang disebut mini piloting KBK di bawah koordinasi direktorat SMP/SMA dan pusat kurikulum.
Legalitas formal pelaksanaan KBK pada tingkat pendidikan dasar dan menengah belum ada karena tidak ada Permendiknas yang mengatur tentang hal itu. Meskipun demikian landasan hukum untuk penyelenggaraan KBK bisa mengacu pada:
1. Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Otonomi Daerah bidang pendidikan dan kebudayaan yaitu : pemerintah memiliki wewenang menetapkan: (1) standar kompetensi siswa dan warga belajar serta pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara nasional serta pedoman pelaksanaannya, dan (2) standar materi pelajaran pokok.
2. Undang-undang No. 2 tahun 1989 Sistem Pendidikan Nasional dan kemudian diganti dengan UU RI No. 20 tahun 2003 pada Bab X pasal 36 ayat: (1) Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, (2) Kurikulum pada semua enjag dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasii sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik (3) Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia… dan pada pasal 38 ayat 91) Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh pemerintah.
Sebelum membahas lebih jauh tentang KBK terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian dari kompetensi dan kurikulum berbasis kompetensi itu sendiri.
1. Pengertian Kompetensi
Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi mengemukakan “Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu”.
Association K.U. Leuven mendefinisikan bahwa kompetensi adalah peingintegrasian dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan satu cara efektif.
Robert A. Roe (2001) mengemukakan definisi dari kompetensi yaitu:
Competence is defined as the ability to adequately perform a task, duty or role. Competence integrates knowledge, skills, personal values and attitudes. Competence builds on knowledge and skills and is acquired through work experience and learning by doing
Dari definisi di atas kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, peran atau tugas, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan. Lebih lanjut Roe menggambarkan model kompetensi sebagai berikut:
Competences
Biographical characteristics
A model of competence
Basic academic
education
Professional
practice
Intitial
Professional
training
Selection
Personality traits
S
K
I
L
L
A
T
T
I
T
U
D
E
Abilities
Basic Competences
K
N
O
W
L
E
D
G
E
Dari model bangunan kompetensi di atas suatu kompetensi terbentuk dari kompetensi-kompetensi dasar yang dibangun dari pengetahuan, keterampilan dan sikap dan dilandasi oleh kemampuan, ciri-ciri kepribadian, dan karakteristik biografis.
Tujuan Pendidikan Nasional
Kompetensi Lintas Kurikulum
Kompetensi Tamatan
Kompetensi Rumpun Mapel
Kompetensi Dasar Mapel
Kompetensi dasar Mapel
Hasil Belajar
Indikator
Silabus
Kompetensi dalam kurikulum berbasis kompetensi mencakup kompetensi lintas kurikulum, kompetensi tamatan, kompetensi rumpun mata pelajaran, kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator. Secara skematik seperti pada gambar di bawah ini:
2. Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi
Eve Krakow (2005) mengemukakan bahwa pengajaran berbasis kompetensi adalah keseluruhan tentang pembelajaran aktif (active learning) dimana guru membantu siswa untuk belajar bagaimana belajar dari pada hanya mempelajari isi (learn how to learn rather than just cover content).
Lebih jauh Christine Gilbert sebagai chief inspector Ofsted pada dokumen visi 2020 dari Ofsted menyebutkan bahwa:
“Learning how to learn half a dozen times, as it describes the imperatives for developing the 21st-century curriculum. In the last decade, it seems that we have established the notion that an appreciation of the ‘how’ students learn is at least as important as ‘what’ they learn. The National Strategies at primary and secondary level are promoting learning competencies and the mantra for Every Child Matters includes enjoyment and engagement with learning as a key outcome”
Pendapat di atas menekankan bahwa pengembangan kurikulum di abad ke-21 lebih ditekankan pada bagaimana mengembangkan suatu konsep “learning how to learning”.
Pusat kurikulum, Balitbang Depdiknas (2002) mendefinisikan bahwa kurikulum berbasis kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum ini berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat diwujudkan sesuai dengan kebutuhannya.
Kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang pada tahap perencanaan, terutama dalam tahap pengembangan ide akan dipengaruhi oleh kemungkinan-kemungkinan pendekatan, kompetensi dapat menjawab tantangan yang muncul. Artinya, pada waktu mengembangkan atau mengadopsi pemikiran kurikulum berbasis kompetensi maka pengembang kurikulum harus mengenal benar landasan filosofi, kekuatan dan kelemahan pendekatan kompetensi dalam menjawab tantangan, serta jangkauan validitas pendekatan tersebut ke masa depan. Harus diingat bahwa kompetensi bersifat terus berkembang sesuai dengan tuntutan dunia kerja atau dunia profesi maupun dunia ilmu (Suyanto, 2005)
Kurikulum berbasis kompetensi memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar pada setiap mata pelajaran. Standar kompetensi diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilari, sikap, dan tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu matapelajaran. Cakupan standar kompetensi standar isi (content standard) dan standar penampilan (performance standard). Kompetensi dasar, merupakan jabaran dari standar kompetensi, adalah pengetahuan, keterampilan dan sikap minimal yang harus dikuasai dan dapat diperagakan oleh siswa pada masing-masing standar kompetensi. Materi pokok atau materi pembelajaran, yaitu pokok suatu bahan kajian yang dapat berupa bidang ajar, isi, proses, keterampilam, serta konteks keilmuan suatu mata pelajaran. Sedangkan indikator pencapaian dimaksudkan adalah kemampuan-kemampuan yang lebih spesifik yang dapat dijadikan sebagai ukuran untuk menilai ketuntasan belajar.
Dari definisi-definisi di atas kurikulum berbasis kompetensi menekankan pada mengeksplorasi kemampuan/potensi peserta didik secara optimal, mengkonstruk apa yang dipelajari dan mengupayakan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kurikulum berbasis kompetensi berupaya mengkondisikan setiap peserta didik agar memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sehingga proses penyampaiannya harus bersifat kontekstual dengan mempertimbangkan faktor kemampuan, lingkungan, sumber daya, norma, integrasi dan aplikasi berbagai kecakapan kinerja, dengan kata lain KBK berorientasi pada pendekatan konstruktivisme, hal ini terlihat dari ciri-ciri KBK, yaitu:
v Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik secara individual maupun klasikal
v Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman
v Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi
v Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar yang lain yang memenuhi unsur edukasi
v Penilaian menekankan pada proses dan hasil dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Dengan demikian kurikulum berbasis kompetensi ditujukan untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya dan bangsanya. Kurikulum ini dapat memberikan dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, pengalaman belajar yang membangun integritas sosial, serta membudayakan dan mewujudkan karakter nasional. Dengan kurikulum yang dernikian dapat memudahkan guru dalam penyajian pengalaman belajar yang sejalan dengan prinsip belajar sepanjang hayat yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal, yaitu: belajar mengetahui, belajar melakukan, belajar menjadi diri sendiri, dan belajar hidup dalam kebersamaan.
C. Perbandingan KBK dengan kurikulum 1994
Perbedaan mendasar antara Kurikulum 1994 dengan KBK seperti tertera dalam buku Pengelolaan Kurikulum di Tingkat Sekolah (Anonim, Depdiknas 2003) terletak pada penguasaan kompetensi, yakni merupakan gabungan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak yang dilakukan secara konsisten. Sedangkan kurikulum 1994 meskipun telah menggabungkan ketiga ranah tersebut, tetapi ketiganya belum nampak dilakukan secara bersama-sama dan menjadi kebiasaan berpikir dan bertindak, apalagi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Jadi perbedaan utama keduanya adalah penekanan pada kompetensi dan latihan kompetensi yang dilakukan secara terus menerus, serta pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut ini beberapa persamaan dan perbedaan KBK dan kurikulum 1994 berdasarkan kajian pustaka dan pengalaman di lapangan:
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Kurikulum 1994
PERSAMAAN
1. Pendidikan dasar 9 tahun
2. Penekanan pada kemampuan Membaca, Menulis, dan Berhitung
3. Konsep-konsep dan materi pokok (esensial) pada setiap mata pelajaran untuk mencapai kompetensi
4. Adanya muatan lokal
5. Alokasi waktu setiap jam pelajaran tetap 45 menit untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK
1. Pendidikan dasar 9 tahun
2. Penekanan pada kemampuan Membaca, Menulis, dan Berhitung
3. Konsep-konsep dan materi pokok (esensial) pada setiap mata pelajaran untuk mencapai kompetensi
4. Adanya muatan lokal
5. Alokasi waktu setiap jam pelajaran tetap 45 menit untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK
PERBEDAAN
1. Pemberdayaan sekolah dan daerah
2. Memuat Standar Kompetensi
3. Kegiatan pembiasaan perilaku terintegrasi dan terprogram
4. Pengenalan mata pelajaran TIK
5. Penilaian Berbasis Kelas (PBK)
6. Pendekatan tematik di kelas I dan II SD/MI untuk memperhatikan kelompok usia
7. Kesinambungan pemeringkatan kompetensi bahan kajian dari kelas I sampai kelas XII
1. Sentralistik
2. Tidak memuat standar kompetensi
3. Tidak ada kegiatan pembiasaan perilaku terintegrasi dan terprogram
4. belum ada mata pelajaran TIK
5. Meskipun sudah disarankan untuk melakukan PBK, kenyataannya masih didominasi penilaian pilihan ganda
6. Pendekatan tematik di kelas I dan II SD/MI hanya disarankan
7. Tidak ada kesinambungan pemeringkatan kompetensi bahan kajian dari kelas I sampai kelas XII
8. Diversifikasi: kurikulum layanan khusus dan standar internasional
8. Tidak ada diversifikasi: layanan khusus dan standar internasional
9. Silabus disusun oleh daerah dan atau sekolah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya
9. Memberikan peluang pada guru/sekolah/daerah untuk mengembangkan potensinya dalam bentuk program penjabaran dan penyesuaian atau melakukan analisis materi pelajaran
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Kurikulum 1994
10. Penilaian pada setiap mata pelajaran dilakukan per aspek
11. Tidak ada pemeringkatan prestasi, karena siswa tidak dibandingkan antar siswa melainkan terhadap ketercapaian kompetensi
12. Jumlah jam seluruh mata pelajaran/minggu lebih sedikit
10. Penilaian pada setiap pelajaran hanya secara keseluruhan satu nilai
11. Dilakukan pemeringkatan prestasi belajar siswa di kelas berdasarkan jumlah nilai
12. Jumlah jam seluruh mata pelajaran/minggu lebih banyak
D. Komponen Utama Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kurikulum berbasis kompetensi merupakan kerangka inti yang memiliki empat komponen dasar yaitu: Kurikulum dan Hasil Belajar, Penilaian Berbasis Kelas, Kegiatan Belajar Mengajar, dan Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah, secara skematis dapat dilihat dari gambar di bawah ini:
Kurikulum dan Hasil Belajar
Penilaian Berbasis Kelas
Peng. Kurikulum Berbasis Sekolah
Kegiatan Belajar Mengajar
Kurikulum Berbasis Kompetensi
1. Kurikulum Hasil Belajar (KHB)
Memuat perencanaan pengembangan peserta didik yang perlu dicapai secara keseluruhan sejak lahir sampai dengan usia 18 tahun. Kurikulum dan hasil belajar ini memuat kompetensi, hasil belajar, dan indikator dari Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal (TK & RA) sampai dengan kelas XII. KHB membrikan suatu rentang kompetensi dan hasil belajar siswa yang bermanfaat bagi guru pendidikan pradasar (TK & RA) sampai kelas XII SMA untuk menentukan apa yang harus dipelajari oleh siswa, bagaimana seharusnya mereka dievaluasi, dan bagaimana pembelajaran disusun. KHB dibagi menjadi satu (1) rumpun pengembangan TK dan RA dan 11(sebelas) rumpun pelajaran yang terdiri dari Pendidikan Asgama, Kewarganegaraan, Bahasa Indoenesia, Matematika, sains, Ilmu Sosial, Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya, Kesenian, dan Pendidikan Jasmani. Keterampilan, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi.
2. Penilaian Berbasis Kelas (PBK)
Memuat prinsip, sasaran, dan pelaksanaan penilaian berkelanjutan yang lebih akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik melalui penilaian terpadu dengan kegiatan belajar mengajar di kelas (berbasis kelas) dengan mengumpulkan kerja siswa (fortofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis. Penilaian ini mengidentifikasi kompetensi/hasil belajar yang telah dicapai, dan memuat pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai serta peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan.
3. Kegiatan Belajar Mengajar
Memuat gagasan-gagasan pokoktentang pembelajaran dan pengajaran untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan serta gagasan-gagasan pedagogis dan andragogis yang mengelola pembelajaran agar tidak mekanistik
4. Pengelolaan Kurikulum Berbasis sekolah
Memuat berbagai pola pemberdayaan tenaga kependidikan dan sumber daya lain untuk meningkatkan mutu hasil belajar. Pola ini dilengkapi dengan gagasan pembentukan jaringan kurikulum, pengembangan perangkat kurikulum (antara lain silabus), pembinaan profesional tenaga kependidikan, dan pengembangan sistem infoermasi kurikulum.
E. Kelebihan dan Kelemahan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dikembangkan dengan tujuan memperbaiki kelemahan pada Kurikulum 1994. KBK menitikberatkan pada kompetensi yang harus dicapai siswa. Misalnya, standar kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar bahasa pada hakikatnya belajar berkomunikasi dan belajar menghargai manusia serta nilai-nilai kemanusiaannya. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan pada peningkatan kemampuan berkomunikasi dan menghargai nilai-nilai, bukan pada kemampuan menguasai ilmu kebahasaan. Akan tetapi, ilmu bahasa dipelajari untuk mendukung keterampilan berkomunikasi. Kegiatan belajar pun dikembalikan pada konsep bahwa siswa akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika siswa mengalami apa yang dipelajarinya, bukan hanya “mengetahuainya”. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat”, tetapi gagal dalam membekali siswa memecahkan persoalan dalam kehidupan nyata untuk jangka panjang.
Berdasarkan kajian teoretik dan pengalaman lapangan, sebenarnya KBK merupakan salah satu kurikulum yang memberikan konstribusi besar terhadap pengembangan potensi peserta didik secara optimal berdasarkan prinsip-prinsip konstruktivisme asal implementasinya benar. Beberapa kelebihan KBK antara lain:
1. Mengembangkan kompetensi-kompetensi siswa pada setiap aspek mata pelajaran dan bukan pada penekanan penguasaan konten mata pelajaran itu sendiri
2. Mengembangakan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student oriented). Siswa dapat bergerak aktif secara fisik ketika belajar dengan memanfaatkan indra seoptimal mungkin dan membuat seluruh tubuh serta pikiran terlibat dalam proses belajar. Dengan demikian, siswa dapat belajar dengan bergerak dan berbuat, belajar dengan berbicara dan mendengar, belajar dengan mengamati dan menggambarkan, serta belajar dengan memecahkan masalah dan berpikir. Pengalaman-pengalaman itu dapat diperoleh melalui kegiatan mengindra, mengingat, berpikir, merasa, berimajinasi, menyimpulkan, dan menguraikan sesuatu. Kegiatan tersebut dijabarkan melalui kegiatan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
3. Guru diberi kewenangan untuk menyusun silabus yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi di sekolah/daerah masing-masing
4. Bentuk pelaporan hasil belajar yang memaparkan setiap aspek dari suatu mata pelajaran memudahkan evaluasi dan perbaikan terhadap kekurangan peserta didik.
5. Penilaian yang menekankan pada proses memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi kemampuannya secara optimal, dibandingkan dengan penilaian yang terfokus pada konten.
Disamping kelebihan, kurikulum berbasis kompetensi juga terdapat kelemahan. Kelemahan yang ada lebih banyak pada penerapan KBK di setiap jenjang pendidikan, hal ini disebabkan beberapa permasalahan antara lain:
1. Paradigma guru dalam pembelajaran KBK masih seperti kurikulum-kurikulum sebelumnya yang lebih pada teacher oriented
2. Kualitas guru, hal ini didasarkan pada statistik, 60% guru SD, 40% guru SLTP, 43% SMA, 34% SMK dianggap belum layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu 17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan bidang studinya. Kualitas SDM kita adalah urutan 109 dari 179 negara berdasarkan Human Development Index.
3. Sarana dan pra sarana pendukung pembelajaran yang belum merata di setiap sekolah, sehingga KBK tidak bisa diimplementasikan secara komprehensif.
4. Kebijakan pemerintah yang setengah hati, karena KBK dilaksanakan dengan uji coba di beberapa sekolah mulai tahun pelajaran 2001/2002 tetapi tidak ada payung hukum tentang pelaksanaan tersebut.
Di samping kelemahan dalam kebijakan dan implementasi KBK juga memiliki kelamahan dari sisi isi kurikulum, antara lain:
1. Dalam kurikulum dan hasil belajar indikator sudah disusun, padahal indikator sebaiknya disusun oleh guru, karena guru yang paling mengetahui tentang kondisi peserta didik dan lingkungan
2. Konsep KBK sering mengalami perubahan termasuk pada urutan standar kompetensi dan kompetensi dasar sehingga menyulitkan guru untuk merancang pembelajaran secara berkelanjutan.
III. KESIMPULAN DAN SARAN
Perubahan kurikulum 1994 ke Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sebenarnya bertujuan perbaikan mutu pendidikan di Indoensia, mengingat dalam KBK berorientasi pada pemberian keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidakmenentuan, ketidakpastian, dan kesulitan dalam kehidupan dengan kata lain bagaimana aplikasi materi pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
Penekanan pembelajaran yang berpusat pada siswa memungkinkan dapat mengeksplorasi potensi siswa secara optimal sehingga tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam undang-undang Sisdiknas dapat terelaisasi. Namun demikian dalam implementasi KBK di lapangan masih banyak kendala/kelemahan sehingga KBK yang dimulai tahun 2001 dan diterapkan secara meluas tahun 2004 (sehingga dikenal dengan kurikulum 2004) berhenti di tengah jalan dan diganti dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Secara umum KBK mengandung empat komponen dasar yaitu Kurikulum Hasil Belajar, Penilaian Berbasis Kelas, Kegiatan Belajar Mengajar, dan Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah mempunyai dimensi yang sangat strategis dalam proses pembelajar yang berorientasi pada konstruktivisme.
Bagaimanapun KBK dengan kelebihan dan kekurangannya telah memberikan dasar yang baik bagi terbentuknya kurikulum tingkat satuan pendidikan.
IV. DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2002. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.
Anonim, 2003. Pelayanan Profesional Kurikulum 2004: Pengelolaan Kurikulum di Tingkat Sekolah. Depdiknas.
Association K.U. Leuven, 2007. Competence based curriculum design, http://www.kuleuven.ac.be
Doll, W.E. (1993). A Post-Modern Perspective on Curriculum. New York and London: Teachers College, Columbia University
Gilbert, Christine.2007. Learning to learn: a competency based curriculum
http://www.teachingexpertise.c.....-2511/2007
Krakow, Eve., 2005. Competency-Based Curriculum in High School. http://www.learnquebec.ca/en/c.....arter.html
Marsh,C.C. (1997). Planning, management and Ideology: Key Concepts or Undertanding Curriculum. London: The Falmer Press
Olivia, P.F. 1997. Developing the Curriculum. 4th edition. New York: Longman
Roe, R.A. (2001). Competencies and competence management. Paper European Congress for W&O Psychology, Prague, May 16-19, 2001.
Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi
Suyanto, 2006. Persoalan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi http://www2.kompas.com/kompas-.....04355.html.
Taba, Hilda. 1962. Curriculum Development Theory and Practice. Newyork,Chicago, San Francisco, Atlanta: Harcourt, Barace & World Inc.
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Unruh, G.G. dan Unruh,A. (1984). Curriculum Development: Problems, Processes, and Progress. Berkeley, California: McCutchan Publishing Corporation
May 7th, 2009 at 4:58 pm
MODEL – MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
M Ihsan Dacholfany M.Ed, Siswa S-3 Uninus Bandung,
Dosen STAI BANI SALEH Bekasi
.
A.Ada – ada beberapa model pengembangan kurikulum :
1.Admistrative Model
Model pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal. Diberi nama model administratif atau line staff karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi.
2.Grass Root Model
Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Diberi nama Grass root karena inisiatif dan gagasan pengembangan kurikulum datang dari seorang guru sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah.
Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah :
1.Perencana
2.Pelaksana
Kesimpulan
Ada beberapa model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum diantaranya ”Administrative model dan Grass Root model ”. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dipakai serta model konsep pendidikan mana yang digunakan.
Administrative model yaitu suatu model pengembangan kurikulum yang direncanakan oleh pihak atasan yang kemudian diturunkan kepada instansi-instansi bawahan sampai kepada guru-guru. Sedangkan Grass Root model yaitu inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum datang dari bawah atau dari pihak guru-guru atau sekolah secara individual dengan harapan agar meluas ke sekolah-sekolah lain.
Berkaitan dengan perubahan, pembaharuan, perbaikan dan pengembangan kurikulum, maka sangat dibutuhkan peran serta berbagai pihak agar dalam mewujudkan perubahan dan pembaharuannya dapat berjalan dengan baik, serasi dan harmonis sehingga apa yang menjadi tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai.
May 11th, 2009 at 8:41 pm
PENDEKATAN ANALISIS SWOT
(Aby Izzah n Irsyad Fizadijah)
ABSTRAK
Pengambilan keputusan tentang program Pendidikan nonformal yang akan dilaksanakan, sebagian ditentukan oleh perencanaan yang baik. Salah satu pendekatan perencanaan pendidikan nonformal yang dilakukan disebut Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, opportunities, threats = kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman). Melalui analisis SWOT akan melahirkan program Pendidikan nonformal yang realistiK dan sesuai kebutuhan sasaran.
PENDAHULUAN
Perencanaan adalah proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Disebut sistematis karena perencanaan itu dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip tertentu di dalam proses pengambilan keputusan, penggunaan pengetahuan dan teknik/ pendekatan secara ilmiah, serta tindakan atau kegiatan yang terorganisasi.
Perencanaan dilakukan untuk menyusun rangkaian kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya. Tujuan tersebut dapat mencakup tujuan umum (goals) dan tujuan khusus (objectives) suatu kegiatan/ program. Dalam menyusun rencana sebaiknya mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia atau dapat disediakan. Sumber-sumber itu meliputi sumber manusia dan sumber non-manusia.
a. Sumber manusia mencakup antara lain pamong belajar, fasilitator, tutor, warga belajar, pimpinan lembaga dan masyarakat.
b. Sumber non-manusia meliputi fasilitas, alat-alat, waktu, biaya, lingkungan sosial budaya, lingkungan fisik, dsb.
Dengan perencanaan diharapkan dapat dihindari penyimpangan sekecil mungkin dalam penggunaan sumber-sumber tersebut.
Perencanaan hanya akan dapat dilakukan apabila perencana megenal, mamahami dengan benar kekuatan dan kelemahan sebagai aspek internal aspek eksternal dari organisasi/ lembaga atau perencana, sehingga dapat diungkap tantangan yang akan timbul di masa depan dan peluang yang mungkin terbuka untuk diraih untuk kebaikan/ peningkatan kinerja. Tanpa mengetahui aspek-aspek tersebut rencana yang disusun hanya merupakan angan-angan yang tidak berdasar, karena itulah diperlukan data yang cermat dan akurat dan terbaru dari semua lini/ komponen terkait.
Perencanaan yang tidak didukung data, sering menimbulkan adanya rencana yang tidak akan pernah tercapai, walaupun didukung oleh sumberdaya yang cukup memadai.
Perencanaan memerlukan adanya data dasar yang diterima dan diakui oleh semua pihak termasuk disemua jenjang organisasi/lembaga terkait. Setiap ada perubahan harus dilakukan secara serentak, disemua tingkatan organisasi/ lembaga terkait. Data dasar harus diperbaiki setiap tahun perencanaan. Sering suatu rencana sudah disusun tanpa si perencana memahami apa yang ada dan sudah terjadi dan apa penghambat yang dihadapi. Dalam keadaan seperti ini, tujuan yang disusun dalam rencana tersebut hampir dapat dipastikan tidak akan dapat dicapai.
Perencanaan sering dianggap sebagai tugas rutin semata, pada hal perencanaan adalah sesuatu yang dinamis, kreatif, dan inovatif. Perencanaan tidak pasif dan statis, karena itulah diperlukan kereasi dan rasa memiliki (sense of ownership) dari para perencana serta rasa malu apabila rencana yang disusun ternyata tidak realistis dan tidak dapat diwujudkan.
Pada setiap setiap perencanaan, hindarilah ungkapan ”perencanaan untuk perencanaan” yang mengandung makna ketidakpeduliaan akan tujuan yang dirancang tetapi hanya asal ada kegiatan.
Untuk menyusun rencana yang dapat direalisasikan dalam kegiatan nyata dan berhasil, diperlukan bebagai pendekatan untuk mengetahui atau memahami sejumlah informasi yang diperlukan, baik aspek internal maupun aspek ekternal. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah analisis ”SWOT” (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Sejanjutnya, pendekatan ini akan dibahas pada bagian lain tulisan ini.
KONSEP ANALISIS SWOT
SWOT merupakan singkatan dari kata Strengths (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (peluang), dan Threats (ancaman). Menurut Sihombing (2000), kata Threats mengandung unsur yang negatif, sehingga lebih cenderung menggunakan kata yang mengandung unsur positif yaitu tantangan (Challenges). Pengubahan ancaman menjadi tantangan karena dia melihat bahwa ancaman kalau dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi peluang, sedangkan tantangan selalu berisi peluang. Sehingga pendekatannya menjadi SWOC.
1. Kekuatan
Maksud kekuatan dalam analisis ini adalah faktor-fakor yang mendukung penyelenggaraan program, serta diakui eksistensinya oleh semua pihak (masyarakat). Contoh kekuatan-kekuatan yang ada pada program pendidikan Tinggi antara lain dapat menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada di masyarakat tanpa harus memenuhi persyaratan tertentu/ ketat, yang tidak mungkin dipenuhi oleh masyarakat. Fasilitas-fasilitas tersebut, antara lain, balai desa, gedung SD dan Puskesmas yang kosong, gedung milik Yayasan ataupun rumah-rumah penduduk. Penilik PLS dapat melakukan bimbingan kepada penyelenggara program PLS kapan saja tanpa terikat oleh jam kantor.
2. Kelemahan
Maksud kelemahan dalam analisis ini adalah permasalahan yang timbul dari penyelenggaraan program dan hasilnya.
Permasalahan merupakan kelemahan yang dapat berubah menjadi tantangan kelancaran pelaksanaan tugas/ program. Sebagai contoh disebutkan bahwa maasih banyak gedung-gedung yang ada , baik milik pemerintah maupun milik yayasan/ swasta belum semua termanfaatkan sebagai tempat belajar. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: (a) rendahnya kesungguhan petugas (penilik/tenaga TLD/ penyelenggara program) dalam mendekati pihak-pihak yang memiliki gedung kosong, untuk dapat dimanfaatkan, (b) masyarakat belum memahami secara baik dan benar tentang penting dan keuntungan, jika program PLS diberikan tempat belajar, (c) rendahnya perhatian pemerintah pada penyediaan tempat belajar program PLS
3. Peluang
Maksud peluang dari analisis ini adalah hal-hal atau faktor-faktor dari luar program yang kalau dicermati dan dimanfaatkan dengan baik dapat menjadi tumpuan harapan dimasa depan. Contoh hingga saat ini masih cukup banyak tenaga terdidik yang belum mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keinginannya; sehingga mereka masih menganggur dan dapat dimanfaatkan sebagai tenaga pendidik (tutor/ fasilitator) dalam program-pogram PLS.
4. Tantangan
Maksud tantangan dalam analisis ini adalah hal-hal yang harus diatasi, direbut, diperbaiki dan ditingkatkan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dalam usaha mencapai tujuan. Tantangan bukan penghambat, tetapi perangsang untuk mendorong perencana pendidikan luar sekolah untuk lebih kreatif dan dinamis. Tantangan dapat berubah menjadi peluang bagi perencana yang tidak berperilaku apatis, statis dan mudah puas.
Contoh tantangan, penyebaran pemukiman baik warga belajar maupun tenaga kependidikan, serta mobilitas warga belajar merupakan tantangan besar dalam pembentukan dan dalam mempertahankan kelangsungan kegiatan/ program PLS. Untuk itu, tantangan-tantangan yang dihadapi adalah
(a) menempatkan kelompok belajar yang dapat terjangkau baik oleh warga belajar maupun tenaga kependidikan /tutor, dan
(b) menemukan strategi-strategi untuk mempertahankan keutuhan kelompok minimal sampai mereka menyelesaikan satu program pembelajaran.
STRATEGI PENYUSUNAN RENCANA
Apabila petugas PLS ingin kegiatan/ programnya terlaksana, dicintai dan dirindukan oleh semua orang termasuk atasan, maka dalam penggalian faktor kekuatan, kelemahan yang dimiliki dan peluang dan tantangan yang dihadapi, dapat disusun pola dasar penyusunan rencana kegiatan/ program.
Apabila faktor kekuatan dikaitkan dengan peluang, maka akan dapat dilihat 3 kemungkinan:
(1) faktor kekuatan lebih besar dari peluang yang ada. Pada situasi ini program/ kegiatan dapat mengkonsentrasikan diri pada pemantapan program dan menghindari penurunan kualitas.
(2) Faktor kekuatan lebih kecil dari peluang. Disini program/ kegiatan dapat memanfaatkan peluang dengan mengadakan penyeragaman garis program dan penganekaragaman mutu program. Sehingga peluang-peluang yang terbuka dapat dimanfaatkan.
(3) Faktor kekuatan sama dengan faktor peluang. Dalam situasi ini program/ kegiatan memfokuskan diri pada peningkatan kualitas dan mencari peluang yang baru.
Apabila kekuatan dikaitkan dengan tantangan, situasi yang dihasilkan akan menggambarkan:
(1) Fakor kekuatan lebih besar dari faktor tantangan. Disini program/ kegiatan dapat memperkenalkan program-program baru karena tidak akan ada hambatan yang berarti.
(2) Faktor kelemahan lebih sedikit dari faktor tantangan. Pada situasi ini program/ kegiatan akan memperhemat programnya agar mampu mengubah tantangan menjadi peluang;
(3) Faktor kekuatan sama dengan faktor tantangan. Disini dapat diperkenalkan program baru, karena tantangan harus dikendalikan dengan program-program yang berkualitas.
Apabila faktor kelemahan dikaitkan dengan peluang ditemukan juga beberapa kemungkinan yang akan terjadi:
(1) faktor kelemahan lebih menonjol dan peluang. Disini program/kegiatan harus berusaha mengurangi kalau tidak dapat menghapuskan kelemahan-kelemahan yang ada, dengan cara meneliti dimana sebenarnya kelemahan tersebut, kemudian diperbaiki. Perbaikan dapat dengan cara tambal sulam atau mengganti dengan yang baru yang lebih mampu memanfaatkan peluang;
(2) Faktor kelemahan lebih kecil dari peluang. Disini peluang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin sambil memperkuat program;
(3) Faktor kelemahan sama dengan kuatnya peluang. Disini seluruh kekuatan harus dikerahkan untuk memperkuat program agar peluang dapat dimanfaatkan.
Apabila faktor kelemahan dikaitkan dengan tantangan, juga akan ditemukan keadaan sebagai berikut:
(1) faktor kelemahan lebih kuat dari faktor tantangan. Disini harus ada penggantian program;
(2) Faktor kelemahan lebih kecil dari tantangan. Dalam keadaan ini faktor tantangan harus dihilangkan, kecuali dapat diubah atau dimanfaatkan menjadi peluang;
(3) Faktor kelemahan sama kuatnya dengan tantangan. Dalam situasi ini kelemahan harus segera diperangi
DAFTARPUSTAKA
Aditya Prabhaswara, Peti Savitri, 2002, Dasar Penyusunan Project Proposal, Yogyakarta: Andi
H.D. Sudjana, 2005, Strategi Pembelajaran Pendidikan Luar Sekolah, Bandung: Falah Production
Umberto Sihombing, 2000, Pendidikan Luar Sekolah Manajemen Strategi, Jakarta: PD Mahkota.
Oleh : Dra. Sitti Hasnah
(Penulis adalah pemerhati Pendidikan Nonformal/ Alumni Jurusan PLS FIP UNM).
May 14th, 2009 at 12:03 pm
ehm… boleh juga.
May 19th, 2009 at 8:39 am
PERSOALAN PENDIDIKAN DI INDONESIA
Oleh Mihsan Dacholfany
(Mhs FKIP Jurusan Bhs Inggris UHAMKA tahun 1998)
1. Dewasa ini sedang dikembangkan upaya ke arah standarisasi di bidang pendidikan.
a. Kemukakan dan jelaskan konsep dan pemikiran anda tentang tujuan, kebutuhan, urgensi dan manfaat dari istandarisasi tersebut.
b. Memperhatikan situasi dan kondisi pendidikan yang ada saat ini, bagaimana kemungkinan pelaksanaan dan keberhasilan dan upaya tersebut ? Jelaskan !
c. Agar dapat berhasil, bagaimana seharusnya hal tersebut dilaksanakan, kemukakan konsep anda disertai argumentasinya yang kuat. !
2. Orientasi Pendidikan
a. Jelaskan secara singkat ketiga orientasi dalam pendidikan-kurikulum, terutama berkenaan dengan dasar-dasar filosofis dan psikologis.
b. Dihubungkan dengan jenis-jenis orientasi tersebut, kebijakan standarisasi pendidikan tersebut menurut anda mengacu atau sesuai dengan orientasi pendidikan yang mana ?
c. Kalau kita ingin meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan dengan tuntutan perkembangan teori atau orientasi pendidikan, mana yang menurut anda harus degunakan ? Jelaskan penerapannya agar berjalan secara optimal?
Saya Mencoba Untuk Menganalisa dari masalah tsb. :
1.a. Tujuan, kebutuhan, urgensi dan manfaat dari standarisasi pendidikan menurut pemikiran penulis adalah :
1) Standarisasi berfungsi sebagai dasar dalam melakukan perencanaan, implementasi, pengawasan dan pengendalian serta evaluasi dalam upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas yaitu pendidikan yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap tujuan pembangunan nasional.
2) Urgensi dari standarisasi pendidikan merupakan respon terhadap masalah-masalah konkrit yang dihadapi bangsa dan negara (nation state), sehingga kompetensi yang didapatkan peserta didik benar-benar bermanfaaat dalam kehidupan bermasyarakat.
3) Tujuan dari strandarisari pendidikan adalah untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, memiliki karakter unggul dan visioner.
1.b. Memperhatikan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, standar pendidikan nasional yang tertuang dalam PP No.19 Tahun 2005 belum secara optimal dapat diimplementasikan, karena beberapa departemen lain (TNI, DepKeu, DepKes, dll) memiliki standar pendidikan tersendiri.
Disisi lain, pada tingkat satuan pendidikan kualitas guru / sumber belajar relatif masih rendah. Konsekuensi logis dari semua itu dapat berimplikasi terhadap mutu pendidikan yang tidak sesuai dengan konsep standar pendidikan diatas.
1.c. Agar standarisasi pendidikan dapat di implementasikan secara epektif, konsep yang penulis ajukan adalah, sebagai berikut :
1). Sentrasilisasi sistem pendidikan harus dilakukan melalui satu departemen (Depdiknas), Departemen / Badan / Lembaga yang selama ini berjalan sendiri harus bersinergi dengan Dekdiknas. Karena dengan sistem pendidikan nasional yang terintegrasi akan memudahkan dalam melakukan proses pengendalian dan pengawasan. Sehingga standar nasional pendidikan dapat terealisasi secara epektif.
2).Bantuan pendidikan untuk para guru perlu ditingkatkan, karena guru merupakan lini terdepan dalam melaksanakn berbagai kebijakan pendidikan, sehebat apapun konsep standar pendidikan tanpa disertai dengan peningkatan kompetensi guru, tidak akan epektif.
Gambar 1.1 : Standar Pendidikan
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
2.a. Educational Spectrum (1983), Miller menyatakan ada tujuh bagian yang harus diperhatikan dalam orientasi kurikulum yaitu : Perilaku masyarakat, subjek / mata pelajaran, sosial / kemasyarakatan, perkembangan (IPTEK), faktor kognitif siswa, budaya masyarakat, dan kemampuan penyampaian materi (transfersonal).
Konsep metaorientasi menurut miller terdiri dari : Orientasi transmisi, transaksi, dan transformasi ketiga orientasi ini sangat membantu dalam menghubungkan antara kurikulum praktis dan filsafat, psikologi, dan kontek sosial.
Orientasi Transmisi.
Orientasi ini biasa diterapkan pada sekolah tradisional, dimana siswa hanya belajar dengan memahami penjelasan dalam buku teks (orientasi subjek), Nilai-nilai budaya yang diterapkan dalam keseharian juga diharapkan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan kemampuan / keterampilan dasar siswa sesuai dengan kebutuhan pemerintah / lembaga. (orientasi budaya). Dalam penerapannya orientasi ini, juga melihat perilaku masyarakat yang akan dijadikan sebagai acuan dalam pembuatan perencanaan kurikulum sehingga kemampuan dasar siswa dapat dikembangkan sesuai dengan strategi / tujuan pembelajaran (orientasi pebelajaran kompetensi).
Gambar 1.2. : Posisi Orientasi Transmisi
Dalam model transmisi ini, proses penyampaian terjadi searah dan terfokus kepada beberapa keterampilan (potensi), dan pengetahuan siswa, serta nilai-nilai khusus / budaya.
Orientasi Transaksi.
Dalam posisi transaksi, Secara rasional dapat dilihat dalam kemampuan kecerdasan pemecahan masalah secara individu. Untuk itu diperlukan adanya interaksi siswa dengan kurikulum, dimana kemampuan siswa dalam ilmu pengetahuan dapat direkonstruksi secara seksama melalui proses dialog. Hal yang terpenting dalam proses transaksi yaitu penekanan dalam kurikulum tentang strategi pemecahan masalah serta fasilitas pendukungnya dan lingkunan (orientasi proses kognitif). Dalam aplikasinya keterampilan pemecahan masalah harus mengacu kepada konteks sosial dan kontek proses demokrasi (orientasi demoktratis kewarganegaraan). Pengembangan kemampuan kognitif siswa juga harus sesuai dengan disiplin ilmu (orientasi disiplin ilmu). Motode proses transaksi dapat dilihat deperti tampak dalam gambar berikut :
Gambar 1.3. : Proses transaksi
Orientasi Transformasi.
Transformasi metaorientasi terfokus kepada pribadi siswa dan perubahan sosial. Secara spesifik hal ini mencakup tiga orientasi : Meningkatakn kemampuan, siswa secara personal dan transformasi sosial (orientasi pemahaman perubahan sosial); Visi perubahan sosial sebagai pendalaman untuk mengharmoniskan / menyelaraskan lingkungan dengan dengan tujuan untuk mengontrol diri dan diluar diri (pribadi siswa) seperti nilai-nilai spriritual dalam masyarakat.
Paradigma posisi transformasi merupakan sebuah konsep interdependen lingkungan alam yang dilakukan untuk mengukur interaksi dengan alam, penerapan kurikulum kepada siswa saling mempengaruhi dalam arti kurikulum dapat mempengaruhi siswa demikian juga sebaliknya. Posisi transformasi ini dapat dilihat dalam gambar berikut :
Gambar 1.4. : Posisi Transformasi
Dalam sejarahnya posisi transformasi ini ada keterkaitan dengan dua hal yaitu elemen keselarasan, dan orientasi perubahan sosial. Kurikulum dan siswa sama-sama membutuhkan untuk penyempurnaan. Dalam pendekatan filsafat posisi transformasi ini termasuk kedalam filsafat transenden, mistik dan beberapa pilsafat eksistensialisme.
2.b. Mengacu kepada kebijakan Standarisasi Pendidikan PP No.19 Tahun 2005, Ketiga model orientasi kurikulum (Trnasmisi, Transaksi, dan Tansformasi) di Indonesia mengacu kepada ketiga orientasi tersebut.
Penjelasan :
1. Pasal 6 : Ayat 1 : Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah terdapat lima kelompok mata pelajaran yang harus dilaksanakan di setiap satuan pendidikan (Agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, pengetahuan dan teknologi, estetika, dan jasmani olah raga dan kesehatan).
Dengan adanya kelompok mata pelajaran yang ditetapkan pemerintah, ini mengacu kepada konsep orientasi transformasi, dalam hal ini siswa harus menerima kelompok mata pelajaran yang sudah ditetapkan tersebut (tidak ada tawar menawar).
2. Pasal 9 ayat 4 : “Kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kedalaman muatan kurikulum pendidikan tinggi diatur oleh perguruan tinggi masing-masing”.
Dengan adanya keleluasaan kepada satuan pendidikan khususnya lingkup perguruan tinggi, ini mengacu kepada konsep transaksi. dimana mahasiswa dapat memilih kurikulum sesuai dengan kebutuhan peminatan kompetensi yang diinginkan.
3. Pasal 26 Ayat 1 s.d ayat 4 : tentang standar kompetensi kelulusan mengacu kepada Konsep Tranformational, yaitu menunjukan adanya keselarasan antara kepentingan individu siswa dan kepentingan tujuan kurikulum. Kepentingan individu siswa ditekankan pada keterampilan kemandirian dan dapat mengikuti pendidikan lanjutan / pengembangan ilmu pengetahuan. Kepantingan kuriulum mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berakhlak mulia.
2.c.Model Orentasi Kurikulum dalam kontek relevansi dengan tuntuan perkembangan ilmu pengetahuan adalah menekankan pada kemampuan siswa belajar mandiri dan pemecahan masalah (problem solving), jadi yang cocok adalah model orientasi transaksi.
Penjelasan :
1. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berjalan sangat cepat, tidak sepenuhnya dapat diakomodir dalam kurikulum.
2. Kurikulum yang diberikan kepada siswa akan diimplementasikan oleh siswa pada waktu / masa yang akan datang, mungkin pada saat itu kurikulum yang didapatkan di sekolah sudah usang.
3. Implikasi dari globalisasi telah menimbulkan kompleksitas permasalahan diberbagai sektor industri, kondisi ini sangat menuntut kompetensi SDM dalam memecahkan masalah.
Agar orientasi transaksi bekerja secara optimal, maka perlu dilakukan :
1. Penyempurnaan kurikulum, khususnya kurikulum kompetensi / keterampilan. Selama ini tidak ada proses dialog / tawar menawar antara kepentingan siswa dan kepentingan pembuat kurikulum. Dalam kondisi ini potensi siswa tidak bisa dikembangkan secara optimal.
2. Mutu pendidikan sangat ditentukan oleh pelaksana pengambil kebijakan pada tingkat satuan pendidikan. Penyelenggara pendidikan saat ini terkonsentrasi kepada tingkat kelulusan Ujian Nasional. Karena itu mekanisme ujian nasional harus dirubah. Pelajaran kewarganegaraan, agama, dan kebudayaan di ujikan oleh Diknas. Pelajaran keterampilan diujikan oleh lembaga indenden / asosiasi profesi yang relevan.
Semoga Jawaban ini dapat bermanfaat. amin
Wassalamu’alaikum wr wb.
Al-Haqir M Ihsan Dacholfany
May 25th, 2009 at 1:20 pm
makacih atas penulisan makalah dan pengertian yang anda-anda buat, semoga berguna bagi kita semua,, dan salam kenal dari saya..
mahasiswi di kota kediri.
July 18th, 2009 at 8:36 am
MENJAGA DARI SYUBHAT
natsir al-irsyad fizadinajah ibn m ihsan dacholfany
: ” Makanlah yang baik-baik dan beramal yang shaleh ” ( QS. Al Mukminun : 51 ).
Seorang imam shalat di suatu kampung dating ke rumah Ibnu Nasawi, seorang hakim dalam masa kekhalifahan Islam. Pada waktu itu, di hadapan Ibnu Nasawi ada sepiring kurma merah yang sudah kering. “ makanlah kurma ini “, kata Ibnu Nasawi kepada tamunya. Namun, nampaknya imam tadi enggan untuk memakan suguhan tersebut, sehingga Ibnu Nasawi berrkata ; “ Sikapmu kepadaku ini menunjukkan seakan-akan bahwa kamu ingin mengatakan “ dari mana Ibnu Nasawi mempunyai sesuatu yang halal..? “. Tapi tak apa, sebab aku sama sekali tidak pernah makan yang lebih halal daripada ini “. Dengan sedikit bercanda,tamu tadi bertanya : “ Dari mana kamu mempunyai sesuatu yang tidak syubhat ?”Ibnu Nasawsi bertanya : Apakah jika aku memberitahukannya kamu akan makan kurma ini ? “. Ya , tentu saja, jawab lelaki tersebut. Ibnu Nasawi bercerita :
Beberapa malam yang lalu tepatnya pada saats seperti ini, tiba-tiba pintu rumahku diketuk oleh seseorang. Pembantuku bertanya kepada si pengetuk, Siapa ya ?”. Orang yang mengetuk menjawab : “ Aku adalah seorang wanita yang ingin bertamu ke rumahmu wahai hakim “. Aku mengiinkannya masuk, dan setelah pintu terbuka, si wanita langsung duduk bersimpuh di lantai dan berkata :”Tolonglah aku “. Hakim Ibnu Nasawi bertanya :” Apa keperluanmu hingga dating ke tempat tinggalku pada malam sepertiini ?”.Wanita itu menjawab :”Saya mempunyai seorang suami,yang telah memberiku dua orang anak perempuan. Seorang berumur dua belas tahun,dan seorang lagi berumuir empat belas tahun. Kemudian, suamiku menikah lagi da setelah mempunyai isteri muda, dia tidak lagi pernah mengunjungi kami, padahal anak-anak ingin sekali bertemu dengannya. Saya gelisah memikirkan keadaan mereka. Saya hanya menginginkan agar suamiku itu mau membagi satu malam untuk saya dan satu malam untuk isteri mudanya ”.
”Apa pekerjaannya ”, tanya Ibnu Nasawi memotong cerita. ” Dia itu seorang penjual roti ”. Jawabnya. Di mana tokonya ?”. ” Di kota Kirk, dan di pasar itu dia dikenal dengan nama si fulan bin fulan ”. Ibnu nasawi bertanya tentang wanita itu : ” Kamu ini anak siapa? ”. Wanita itu berkata ; ” saya anak si fulan ”. Ibnu Nusawi bertanya lagi : ” Siapa nama anak perempuanmu ? ”. Wwanita itu menjawab :” Fulanah dan Fulanah ”. Setelah itu Ibnu Nawawi : ” Insya Allah, aku akan bisa mengembalikan suamimu itu kepadamu ”. Untuk mengucapkan terima kasih, si wanita berkata : ” Kain ini adalah hasil tenunanku dan anak-anakku, silakan tuan mengenakannya ”. Hakim Ibnu Nasawi berkata : ” Ambil saja kainmu itu dan bawalah pulang ”.
Setelah wanita itu pergi, Ibnu Nasawi berkata kepada dua orang utusannya : ” Bawa laki-laki itu kemari dan jangan sedikitpun kamu melukainya ’.Tak lama kemudian kedua orang suruhan tadi telah membawa suami wanita itu ke hadapanku dalam kondis kebingungan. Maka aku berkata kepadanya :” Kamu tidak usah khawatir, aku memanggilmu hanya untuk memberimu bahan roti untuk bekal bepergian ”. Begitu mendengarkan perkataanku, hatinya menjadi tenang dan berkata :” Aku tidak memerlukan bahan makanan ini ”.Ibnu Nasawi berkata : ” Baiklah , itu tidak menjadi masalah bagiku, yang perlu aku ingatkan bahwa engkau ini adalah saudaraku. Aku ingin bertanya sesuatu tentang keadaan istrimu, si fulanah. Karena dia itu keponakanku. Selain itu bagaimana pula dengan anak-anaknya, si fulanah dan si fulanah ?”. Lelaki itu enjawab : ” Mereka baik-baik saja ”. Hakim Ibnu Nasawi berkata : ” Aku tidak perlu memberimu nasehat tentang isterimu, tapi ingatlah sebaiknya jangan kamu sampai membuat gelisah istri dan anak-anakmu itu ”.
Setelah itu dia segera minta izin pulang dan aku berkata : ” Pergilah ke tokomu ”. Tak lama kemudian, pada malam harinya, wanita itu datang ke rumahku, dengan membawa piring berisi kurma ini dan saya mohon agar engkau tidak menolaknya . Inijuga kain tenunan yang kubuat dan anak-anakku, dan saya harap tuan tidak menolak pemerianku ini ”. Setelah bercerita demikian, Ibnu Nasawi bertanya kepada imam yang datang ke rumahnya tadi : ” Nah, apakah makanan kurmamerah ini halal ? Imam tadi menjawab : ” demi Allah, ini makanan yang halal ”.. Ibnu Nasawi berkata : ” kalau begitu makanlah kurma ini ”.. Akhirnya lelaki tadi menyantap kurma yang dihidangkan oleh si tuan rumah tersebut.
Dari kisah diatas dapat dilihat bagaimana seorang imam sangat berhati-hati dalam makanan, demikian juga seorang hakim seperti Imam Nasawi sangat berhati-hati dalam menerima pemberian dan hadiah.. Mereka berdua khawatir jika harta kekayaan,makanan yang dimakan itu seustu yang tidak halal, dan syubhat. Imam Nasawi menolak pemberian pertama, sebab jika dia menerima pemberian itu sedangkan perkara yang diurusnya belum selesai, maka diakhawatir jika hatinya akan tersangkut dengan pemberian sebelum diamenyelesaikan perkara yang dihadapannya. Sedangkan jika dia menerima pemberian kurmadan kain tenunan itu setelah perkara itu selesai, maka pemberian itu tidak ada sangkut pautnya dengan menangani perkara tersebut, hanya merupakan ungkapan terima kasih yang murni, dan sedekah yang ikhlas. Oleh sebab itu Imam Nasawi menerima pemberian tersebut.
Dalam sebuah hadis disebutkan : ’ Sesuatu yang halal itu sangatlah jelas, dan sesuatu yang haram juga sangatlah jelas. Diantara keduanya itu ada hal-hal yang syubhat ( tidak jelas antara halal dan haram ), yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barangsiapa yang terjaga daripada yang syubhat, niscaya ia telah terlepas ( dapat menjaga 0 kehormatannya dan agamanya. Dan barangsiapa yang jatuh ke dalam perkara yang syubhat,niscaya ia telah terpesosok ke dalam yang haram, seperti pengembala yang mengembalakan hewan ternaknya di sekeliling hutan larangan, maka besar kemungkinan hewan itu akan masuk ke dalam kawasan hutan yang dilarang tersebut ”. ( Hadis riwayat Bukhari dan Muslim ).
Seorang muslim, sepatutnya selalu bertnanya kepada dirinya sendiri, apakah harta yang kumiliki ini halal atau haram, apakah makanan inihalal atau haram, sehingga diatidak terjatuh ke dalamsyubhat, apalagi kalaujatuh ke dalam yang haram, sebab Rasululah saw bersabda : ” Barangsiapa yang tidak menghiraukan darimana ia memperoleh harta kekayaan itu, niscaya Allah tidak menghiraukan darimana ia akan dimasukkan ke dalam api neraka ” .
Menjaga diri agar terhindar daripada sesuatu yang haram itu merupakan ibadah yang paling mulia, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis : ” Ibadah itu sepuluh bagian. Sembilan bahagian daripadanya pada mencari yang halal ”. Oleh sebab itu Ibnu Mubarak mengatakan :” Mengembalikan sedirham dari harta syubhat adalah lebih aku suka daripada aku bersedekah dengan seratus ribu dirham, seratus ribu dirham, seratus ribu dirham, sehingga sampai kepada enam ratus ribu dirham ”.
Ahmad bin hanbal mendengar Yahya bin Muin berkata : ” Sesungguhnya aku tiada akan meminta-minta pada seseorang. Dan kalau diberikan kepadaku sesuatu oleh syetan, niscaya aku akan makan. ”. Setelah itu yahya bin Muin berkata : ” Akuhanya bergurau dan bermain-main ”. Ahmad bin Hanbal berkata :” Engkau bermain-main dengan agama ? Apakah engkau tidak mengetahui bahwa makan itu sebagian daripada agama , malahan Allah mendahululukan masalah makanan itu daripada amal ibadah ? Kemudian dia membaca ayat : ” Makanlah yang baik-baik dan beramal yang shaleh ” ( QS. Al Mukminun : 51 ). Menurut Ibnu Hanbal dalam ayat diatas, Allah lebih mendahulukan ” makanlah makanan yang baik ” baru Allah perintahkan ” beramal yang shaleh ”, berarti berhati-hati terhadap makanan yang baik itu diutamakan Allah daripada beramal yang saleh. Oleh itu dalam sebuah hadis disebutkan : ” Barangsiapa membeli kain dengan harga sepuluh dirham, dan dalam harga tersebut ada satu dirham yang haram, niscaya Allah tidak akan menerima shalatnya,selama kain itu masih ada padanya ” ( hadis riwayat Ahmad ).. malahan dalam hadis yang lain disebutkan bahwa status kehalalan makanan itu sangat mempengaruhi dalam dimakbulkannya doa seseorang : ” Banyak orang yang berusaha kesana kemari, sehingga pakaiannya berdebu, memakan yang haram, pakaian dariuang haram, dia mengangkat tanganuntuk berdoa, dengan ucapan Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku, makabagaimanakah mungkin do9anya diterima dengan keadaannya yang demikian..? ” ( hadis riwayat Muslim ). Oleh sebab itu suatu hari Sahabat Sa’ad meminta agar Rasulullah saw mendoakannya, maka nabi menjawab : Baguskanlah makananmu, niscaya doamu dimakbulkan ”( riwayat Thabrani ). Sebgain ulama menyatakan bahwa makanan yang haram itu dapat membuat karat yang menutupi hati kita sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat : Bal, raana ala quluubihim makaanuu yaksibun, Bahkan, apa yang telah mereka kerjakan akan menjadi karat (yang menutupi hati mereka ” ( QS. Al Muthaffifin : 14 ).. Semoga tulisan ini dapat membuat kita berhati-hati dengan harta yang syubhat..? Fa’tabiru ya Ulil albab. ( Renunagn Jumat ISTAID –Medan, Muhammad Arifin ismail, 19 Juni 2009
Konseling Pendidikan
By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA
Kualitas manusia diukur dengan tingkat kecerdasan dan ketinggian budipekertinya. Pada dasarnya setiap manusia telah dibekali perangkat untuk mengembangkan tingkat kecerdasan dan ketinggian budi pekertinya. Dari segi kejiwaan, sejak lahir manusia telah memiliki kapasitas yang berda-beda, tetapi dari segi pendidikan, manusia lahir dalam keadaan sama, yaitu bersih, dalam keadaan fitrah. Perjalanan hidupnyalah nanti yang akan menentukan corak dan tingkat kecerdasan serta kepribadiannya.
Ada manusia yang memiliki kapasitas tertentu mampu secara otodidak memahami fenomena alam dan sosial untuk kemudian menyimpulkannya sendiri tanpa bantuan suatu program, dan orang itu kermudian menjadi orang pandai, orang terpelajar. Sebaliknya ada orang yang telah diikutkan dalam suatu program pendidikan yang reguler, tetapi karena keterbatasan kapasitas dirinya, maka program pendidikan reguler yang diikutinya itu tak terlalu berhasil untuk mentransfer budaya yang ditawarkannya, sehingga meski jenjang pendidikannya panjang tetapi, tetapi ciri-ciri orang pandai tidak nampak pada orang itu.
Pendidikan dalam artinya yang luas , bermakna merubah dan memindahkan nilai kebudayaan kepada setiap individu dalam masyarakat. Proses pemindahan nilai budaya itu menurut Prof Hasan Langgulung dapat melalui;
(a). pengajaran, yakni pemindahan pengetahuan, bisa di sekolah, di rumah, di tempat bermain dan bisa dimana-mana. Proses pengajaran adalah memindahkan pengetahuan yang dimiliki seseorang kepada orang lain yang belum memilikinya dengan mengajarkan sebab-akibat dan memilah-milah suatu masalah.
(b). Proses pelatihan. Dalam hal menyetir mobil atau main sepakbola misalnya, maka pelatihan merupakan proses memindahkan budaya yang lebih cepat dibanding dengan proses pengajaran teori.
(c). Indoktrinasi, yaitu proses yang melibatkan seseorang untuk meniru atau mengikuti apa yang diperintahkan oleh orang lain.
Ketiga pendekatan itu; pengajaran, latihan dan indoktrinasi nampaknya digunakan sekaligus dalam proses pendidikan di masyarakat.
Pendidikan adalah transfer budaya, sementara masya¬rakat manapun serta dalam tingkat manapun mereka dalam sejarah peradaban manusia, kebudayaannya mengandung unsur-unsur; (a) akhlak atau etik, (b) estetika atau keindahan, (c) sain atau ilmu pengetahuan, dan (d) teknologi.
Sejarah peradaban manusia menunjukkan bahwa setiap bangsa berbeda dalam menitik beratkan pendidikan, ada yang mengutamakan segi etik sambil menomorduakan yang lain, ada yang mengutamakan pendidikan teknologi sambil menomorduakan yang lain dan seterusnya. Idealnya keempat unsur itu diperhatikan secara proporsional dalam kebijakan pendidikan, tetapi kebijakan pendidikan pada suatu masyarakat belum tentu ditentukan oleh ahli pendidikan, terkadang pertimbangan politis justeru lebih dominan dalam penentuan kebijakan pendidikan, sehingga hasilnya secara makro tidak seperti yang diharapkan.
Secara individual, jika langkah pendidikan yang ditem¬puh tidak sesuai dengan kebutuhan atau kapasitasnya sering menimbulkan problem-problem kejiwaan.
Tujuan dan Lingkup Pendidikan
Setiap pendidikan mempunyai tujuan, dan tujuan pendidikan biasanya diazaskan pada falsafah dan pandangan hidup yang dianggap sesuai untuk kepentingan mengembangkan dan membentuk suatu generasi mendatang sebagai pewaris generasi sekarang. Falsafah hidup orang Barat yang liberal misalnya, falsafah pendidikannya yang bersifat pragmatis, untuk membentuk manusia yang pragmatis juga, sementara pendidikan di Rusia bertujuan untuk membentuk manusia komunis, dan Indonesia yang menganut falsafah Panca Sila, tujuan pendidikan yang ditetapkan oleh Pemerintah juga untuk membentuk manusia Pancasilais.
Adanya bidang studi kewiraan, SPPB, dan last but not least Penataran Panca Sila adalah mengacu kepada tujuan pendidikan tersebut. Demikian juga bagi ummat Islam yang memiliki ideologi Islam pastilah juga memiliki falsafah pendidikan Islam.
Sedangkan lingkup obyek pendidikan adalah aspek kepribadian (psikologik) dan aspek psikopisik atau psikomotorik. Istilah yang populer di kalangan Depdiknas adalah kognitip, afektip dan psikomotorik yang kemudian dipopulerkan menjadi cerdas, trampil dan takwa, maksudnya bahwa sasaran dan obyek pendidikan nasional Indonesia adalah membentuk generasi yang cerdas secara intelektual, memiliki kepribadian manusia Indonesia yang beragama serta trampil dalam bekerja, atau sebagai manusia Indonesia seutuhnya.
Hati Seorang Ayah
Seorang ayah memiliki hati yang penuh kasih untuk anak-anaknya. Hati seorang ayah akan tahan menderita bila sakit untuk dirinya sendiri, namun tidak akan tahan disaat melihat buah hatinya yang menderita. Bahkan jika sakit itu bisa digantikannya, ayah bersedia menggantikan sakit anaknya. Itulah hati seorang ayah.
Saya mengenal seorang teman yang juga seorang ayah. Saya biasa memanggilnya Mas Jay. Kami biasa berdiskusi lewat milis dan malam itu Mas Jay berkunjung ke Rumah Amalia. Mas Jay bertutur mulanya dirinya orang yang ‘mbeling’ tidak memiliki keyakinan yang mantap dan tetap. Ketertarikan belajar sholat secara serius ketika ajakan yang begitu menyentuh dari anaknya yang masih TK. Anak yang masih relatif kecil setiap hari selalu mengajaknya untuk mengerjakan sholat. Awalnya dirinya menanggapi hal itu sebagai biasa saja.
Ajakannya itu terasa betul-betul menampar hatinya. Begitu sangat berharga dan membuatnya menangis meraung-raung justru ketika anaknya sedang sakit masih sempat mengajaknya sholat Isya’. Katanya, ditengah malam anak saya suhu badannya panas tinggi dan perutnya mengeras. Anaknya menangis tak henti-hentinya merengek mengajak saya sholat. Tanpa berpikir panjang saya memenuhi permintaannya untuk mengambil air wudhu. Setelah mengerjakan sholat, kami bergegas menuju Rumah Sakit.
Setelah diperiksa ternyata putranya harus dioperasi. Karuan saja dirinya menjadi panik. Bagaimana mungkin anaknya yang masih kecil itu dengan kekuatan fisiknya yang masih lemah untuk menghadapi operasi. ‘Saya hanya bisa berserah diri kepada Alloh SWT, saya berjanji jika anak saya sembuh. Saya akan rajin melaksanakan sholat seperti yang dimintanya.’ Tuturnya.
Katanya Mas Jay sebelum anak saya masuk ruang operasi masih sempat bertanya pada dirinya, ‘ayah sudah sholat belum.’ Kata-kata itu begitu mengiris-iris hati saya. Dulu bila mendengar ajakan teman-temannya untuk sholat selalu menolaknya karena keengganan untuk melaksanakan sholat. Sekarang kata-kata itu justru muncul dari anak yang disayanginya, bagaimana mungkin dirinya bisa menolaknya, lanjutnya. Mas Jay tak bisa menyembunyikan airmatanya yang terus bercucuran.
‘Saya menunggu putranya didepan kamar operasi’ tuturnya. Ketika lampu operasi menyala. Dirinya bersama istri tercinta tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya, hilir mudik didepan kamar operasi. Waktu seolah berjalan lama sekali. ‘Segala macam doa yang saya tahu saya panjatkan kehadirat Alloh SWT.’ Setelah begitu lama, kamar operasi itu terbuka. Seorang dokter muncul dari pintu. Mencopot sarung tangannya. ‘Operasinya berjalan dengan baik, anak bapak sekarang perlu istirahat setelah itu boleh pulang.’ Mas Jay menangis bahagia. ‘Alangkah nikmatnya anugerah Alloh SWT yang diberikan kepada saya disaat harapan mulai memudar, Alloh SWT menyelamatkan putra saya,’ tuturnya. ‘Dan sejak itu saya lebih giat untuk melaksanakan sholat karena saya harus memenuhi janji saya,’ kata Mas Jay malam itu. Saya bisa merasakan apa yang terjadi pada dirinya. Begitulah hati seorang ayah yang penuh kasih untuk sang buah hatinya.
Wassalam,
agussyafii
Hati Yang Lembut Seorang Ibu
By: agussyafii
Hati seorang ibu begitu lembut. Tangis anaknya ditengah malam mampu membangunkan dirinya sekalipun tertidur lelap. Seorang ibu mampu menahan lapar demi untuk kebutuhan makan anak-anak agar tumbuh dewasa. Disetiap langkahnya senantiasa ada tetes airmata dan doa ibu bagi kebahagiaan anak-anaknya. Itulah sebabnya Baginda Nabi Muhamad SAW bersabda, ‘aljannatu tahta akdamil ummahat’ artinya, ’surga itu dibawah telapak kaki ibu.’
begitu mulianya hati seorang ibu, demikian halnya ibu yang saya kenal. beliau mengadukan perilaku anak lelakinya yang tidak difahaminya. Kata ibu tersebut, anak lelakinya yang sekarang duduk pada semester 6 pada sebuah akademi bank sejak empat bulan lalu menunjukkan perilaku yang aneh, yaitu selalu mengurung diri dalam kamar.
Pulang dari kuliah, langsung masuk kamar, tidak mau makan bersama dengan keluarga, tidak juga duduk-duduk bersama dengan kerluarga. Makan dan minum ia ambil sendiri ketika tidak ada orang dan ia makan di kamarnya. Setiap ditanya ada masalah apa, ia selalu menjawab nggak apa-apa, saking tidak fahamnya, ayahnya sering memarahinya, dan semakin dimarahi membuatnya menjadi semakin diam dan semakin mengurung diri.
Jika ada teman-teman kuliahnya datang, ia juga tidak bersedia menemuinya dengan alasan kurang sehat. Pokoknya, kata ibunya, saya benar-benar tidak faham, tidak mengerti, dan akhirnya saya cemas. Pernah dibawa ke psikiater, tetapi ia tetap diam, tidak mau menjawab, dan ia pun merasa enggan dibawa ke psikiater. Kata ibunya, anaknya rajin salat, dan bahkan selama mengurung diri sering dipergokinya malam hari sedang salat malam.
Dari ceritera ibunya, maka saya menduga bahwa anaknya merasa tertekan karena melakukan suatu perbuatan dosa yang tidak diketahui keluarganya. Ia merasa berdosa besar, tetapi ia tidak mungkin menceriterakanya kepada keluarganya. Semakin hari ia menjadi semakin tertekan, karena dikejar-kejar oleh perasaan berdosa. Jiwanya menjadi gelap karena terkurung oleh perasaan berdosa.
Kepada ibu itu saya minta agar anaknya diajak main ke Rumah Amalia untuk ngobrol-ngobrol. Ketika datang ke rumah, saya minta ibunya pulang dulu saja, sekitar tiga jam lagi biar supir menjemput, dan pemuda itu saya ajak jalan-jalan.
Dalam obrolan perjalanan, saya katakan bahwa saya sudah tahu permasalahannya dan memberi tahu bahwa sebenarnya Alloh SWT telah mengampuni dosanya, karena kamu telah dipenjara selama empat bulan oleh hati nuranimu sendiri.dan nurani itu mempunyai hotline dengan Alloh SWT. Alloh mendengar tangisanmu ketika kamu salat malam. Saya katakan bahwa jangan kau kira Alloh itu galak, Alloh SWT itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Alloh SWT tersenyum lho melihat kamu menyesali perbuatanmu. Sudahlah, yang penting sekarang kau harus memulai lembaran baru, waspada di hari yang akan datang, jangan sekali-kali kau ulangi perbuatanmu.
Ternyata ia cukup dua kali saja bertemu saya, dan pertemuan keduapun hanya untuk mengajak sholat berjamaah di Masjid Al-Hikmah dekat rumah, tidak berbicara lagi tentang masa lalu, tetapi berbicara tentang masa depan.
Ibunya memberitahukan saya, menyatakan keheranannya atas kesembuhan anaknya, dan menanyakan problem apa sebenarnya yang selama ini dipendam oleh anaknya, maka saya jawab, tidak penting yang sudah lalu, yang penting masa depan, saya jawab demikian karena sebenarnya sampai akhirpun saya tidak tahu, tetapi pemuda itu merasa bahwa saya telah mengetahui rahasianya, padahal yang sebenarnya saya benar-benar tidak tahu karena memang tidak menanyakannya.
seseorang merasa tidak akan diampuni Alloh SWT atas dosa yang telah diperbuatnya, karena ia tidak tahu bahwa Alloh Maha Pengampun. Perasaan berdosa itu membuatnya tertekan dan tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Untungnya ia termasuk pemuda yang taat beragama, meskipun masih dalam proses belajar. Akhirnya betapa bahagianya Sang Ibu melihat perkembangan putranya yang bisa berkumpul kembali bersama keluarganya. Sayapun turut berbahagia melihat kebahagiaan Ibu itu. begitulah hati Sang Ibu, sangat lembut dan penuh cinta kasih kepada putranya.
Langit Senantiasa Tersenyum
By: agussyafii
Satu pagi seperti biasa sehabis sholat subuh, saya dan Hana suka sekali jalan-jalan. Pagi itu saya dikejutkan dengan teriakan Hana, ‘Ayah..lihat. Langitnya tersenyum’ ucapan Hana menyentak kesadaran saya, sambil melihat langit nampak ada awan yang indah seolah ada gambar sebuah senyuman.
Saya teringat satu ayat QS. Ibrahim (14) : 19, ‘Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak (keindahan)? Ayat ini memberikan gambaran bahwa begitu agungnya ciptaan Alloh SWT yang bernama langit, langit memiliki keindahannya. Sekaligus dimaknai bahwa kehidupan manusia akan menjadi indah jika terbuka seperti langit. Membuka diri dengan melihat semua sebagai awan yang indah. Hal-hal yang menyenangkan seperti kebahagiaan, senyuman, pujian, kesehatan sebagai awan yang putih. Sementara hal-hal yang menyedihkan seperti kedukaan, tangisan, makian, kepedihan, sakit sebagai awan kelabu.
Semua awan putih dan awan kelabu datang dan pergi silih berganti. Itulah yang diajarkan langit kepada kita agar senantiasa tersenyum ketika hadir awan putih dan awan kelabu semuanya menjadi nampak indah. langit yang luas dan terbuka semua kejadian yang berada di alam dinaunginya. Orang baik dan orang jahat diperlakukan sama yaitu penuh cinta dan kasih sayang oleh langit biru. Mari kita simak pesan tentang langit biru berikut ini.
‘The Expression of blue sky is compassion, because blue sky means empaty of self. When there’s unity. And Whithout the thought of Iam loving. Love becomes the natural Expression of that of oneness.’
Siapa saja yang sudah menjadi langit biru akan mengisi hidupnya dengan cinta kasih. Langit biru simbol keikhlasan. Tatkala kita meniadakan diri dari aku, ego, keangkuhan, kesombongan maka muncullah sikap Cinta kasih pada diri kita untuk sesama terjadi begitu saja, spontan, tanpa paksaan, tanpa upaya, tanpa usaha. Semuanya menyatu dalam cinta kasih secara natural dan alamiah. Itulah yang terjadi kenapa langit senantiasa tersenyum.
July 18th, 2009 at 8:36 am
MENJAGA DARI SYUBHAT
: ” Makanlah yang baik-baik dan beramal yang shaleh ” ( QS. Al Mukminun : 51 ).
Seorang imam shalat di suatu kampung dating ke rumah Ibnu Nasawi, seorang hakim dalam masa kekhalifahan Islam. Pada waktu itu, di hadapan Ibnu Nasawi ada sepiring kurma merah yang sudah kering. “ makanlah kurma ini “, kata Ibnu Nasawi kepada tamunya. Namun, nampaknya imam tadi enggan untuk memakan suguhan tersebut, sehingga Ibnu Nasawi berrkata ; “ Sikapmu kepadaku ini menunjukkan seakan-akan bahwa kamu ingin mengatakan “ dari mana Ibnu Nasawi mempunyai sesuatu yang halal..? “. Tapi tak apa, sebab aku sama sekali tidak pernah makan yang lebih halal daripada ini “. Dengan sedikit bercanda,tamu tadi bertanya : “ Dari mana kamu mempunyai sesuatu yang tidak syubhat ?”Ibnu Nasawsi bertanya : Apakah jika aku memberitahukannya kamu akan makan kurma ini ? “. Ya , tentu saja, jawab lelaki tersebut. Ibnu Nasawi bercerita :
Beberapa malam yang lalu tepatnya pada saats seperti ini, tiba-tiba pintu rumahku diketuk oleh seseorang. Pembantuku bertanya kepada si pengetuk, Siapa ya ?”. Orang yang mengetuk menjawab : “ Aku adalah seorang wanita yang ingin bertamu ke rumahmu wahai hakim “. Aku mengiinkannya masuk, dan setelah pintu terbuka, si wanita langsung duduk bersimpuh di lantai dan berkata :”Tolonglah aku “. Hakim Ibnu Nasawi bertanya :” Apa keperluanmu hingga dating ke tempat tinggalku pada malam sepertiini ?”.Wanita itu menjawab :”Saya mempunyai seorang suami,yang telah memberiku dua orang anak perempuan. Seorang berumur dua belas tahun,dan seorang lagi berumuir empat belas tahun. Kemudian, suamiku menikah lagi da setelah mempunyai isteri muda, dia tidak lagi pernah mengunjungi kami, padahal anak-anak ingin sekali bertemu dengannya. Saya gelisah memikirkan keadaan mereka. Saya hanya menginginkan agar suamiku itu mau membagi satu malam untuk saya dan satu malam untuk isteri mudanya ”.
”Apa pekerjaannya ”, tanya Ibnu Nasawi memotong cerita. ” Dia itu seorang penjual roti ”. Jawabnya. Di mana tokonya ?”. ” Di kota Kirk, dan di pasar itu dia dikenal dengan nama si fulan bin fulan ”. Ibnu nasawi bertanya tentang wanita itu : ” Kamu ini anak siapa? ”. Wanita itu berkata ; ” saya anak si fulan ”. Ibnu Nusawi bertanya lagi : ” Siapa nama anak perempuanmu ? ”. Wwanita itu menjawab :” Fulanah dan Fulanah ”. Setelah itu Ibnu Nawawi : ” Insya Allah, aku akan bisa mengembalikan suamimu itu kepadamu ”. Untuk mengucapkan terima kasih, si wanita berkata : ” Kain ini adalah hasil tenunanku dan anak-anakku, silakan tuan mengenakannya ”. Hakim Ibnu Nasawi berkata : ” Ambil saja kainmu itu dan bawalah pulang ”.
Setelah wanita itu pergi, Ibnu Nasawi berkata kepada dua orang utusannya : ” Bawa laki-laki itu kemari dan jangan sedikitpun kamu melukainya ’.Tak lama kemudian kedua orang suruhan tadi telah membawa suami wanita itu ke hadapanku dalam kondis kebingungan. Maka aku berkata kepadanya :” Kamu tidak usah khawatir, aku memanggilmu hanya untuk memberimu bahan roti untuk bekal bepergian ”. Begitu mendengarkan perkataanku, hatinya menjadi tenang dan berkata :” Aku tidak memerlukan bahan makanan ini ”.Ibnu Nasawi berkata : ” Baiklah , itu tidak menjadi masalah bagiku, yang perlu aku ingatkan bahwa engkau ini adalah saudaraku. Aku ingin bertanya sesuatu tentang keadaan istrimu, si fulanah. Karena dia itu keponakanku. Selain itu bagaimana pula dengan anak-anaknya, si fulanah dan si fulanah ?”. Lelaki itu enjawab : ” Mereka baik-baik saja ”. Hakim Ibnu Nasawi berkata : ” Aku tidak perlu memberimu nasehat tentang isterimu, tapi ingatlah sebaiknya jangan kamu sampai membuat gelisah istri dan anak-anakmu itu ”.
Setelah itu dia segera minta izin pulang dan aku berkata : ” Pergilah ke tokomu ”. Tak lama kemudian, pada malam harinya, wanita itu datang ke rumahku, dengan membawa piring berisi kurma ini dan saya mohon agar engkau tidak menolaknya . Inijuga kain tenunan yang kubuat dan anak-anakku, dan saya harap tuan tidak menolak pemerianku ini ”. Setelah bercerita demikian, Ibnu Nasawi bertanya kepada imam yang datang ke rumahnya tadi : ” Nah, apakah makanan kurmamerah ini halal ? Imam tadi menjawab : ” demi Allah, ini makanan yang halal ”.. Ibnu Nasawi berkata : ” kalau begitu makanlah kurma ini ”.. Akhirnya lelaki tadi menyantap kurma yang dihidangkan oleh si tuan rumah tersebut.
Dari kisah diatas dapat dilihat bagaimana seorang imam sangat berhati-hati dalam makanan, demikian juga seorang hakim seperti Imam Nasawi sangat berhati-hati dalam menerima pemberian dan hadiah.. Mereka berdua khawatir jika harta kekayaan,makanan yang dimakan itu seustu yang tidak halal, dan syubhat. Imam Nasawi menolak pemberian pertama, sebab jika dia menerima pemberian itu sedangkan perkara yang diurusnya belum selesai, maka diakhawatir jika hatinya akan tersangkut dengan pemberian sebelum diamenyelesaikan perkara yang dihadapannya. Sedangkan jika dia menerima pemberian kurmadan kain tenunan itu setelah perkara itu selesai, maka pemberian itu tidak ada sangkut pautnya dengan menangani perkara tersebut, hanya merupakan ungkapan terima kasih yang murni, dan sedekah yang ikhlas. Oleh sebab itu Imam Nasawi menerima pemberian tersebut.
Dalam sebuah hadis disebutkan : ’ Sesuatu yang halal itu sangatlah jelas, dan sesuatu yang haram juga sangatlah jelas. Diantara keduanya itu ada hal-hal yang syubhat ( tidak jelas antara halal dan haram ), yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barangsiapa yang terjaga daripada yang syubhat, niscaya ia telah terlepas ( dapat menjaga 0 kehormatannya dan agamanya. Dan barangsiapa yang jatuh ke dalam perkara yang syubhat,niscaya ia telah terpesosok ke dalam yang haram, seperti pengembala yang mengembalakan hewan ternaknya di sekeliling hutan larangan, maka besar kemungkinan hewan itu akan masuk ke dalam kawasan hutan yang dilarang tersebut ”. ( Hadis riwayat Bukhari dan Muslim ).
Seorang muslim, sepatutnya selalu bertnanya kepada dirinya sendiri, apakah harta yang kumiliki ini halal atau haram, apakah makanan inihalal atau haram, sehingga diatidak terjatuh ke dalamsyubhat, apalagi kalaujatuh ke dalam yang haram, sebab Rasululah saw bersabda : ” Barangsiapa yang tidak menghiraukan darimana ia memperoleh harta kekayaan itu, niscaya Allah tidak menghiraukan darimana ia akan dimasukkan ke dalam api neraka ” .
Menjaga diri agar terhindar daripada sesuatu yang haram itu merupakan ibadah yang paling mulia, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis : ” Ibadah itu sepuluh bagian. Sembilan bahagian daripadanya pada mencari yang halal ”. Oleh sebab itu Ibnu Mubarak mengatakan :” Mengembalikan sedirham dari harta syubhat adalah lebih aku suka daripada aku bersedekah dengan seratus ribu dirham, seratus ribu dirham, seratus ribu dirham, sehingga sampai kepada enam ratus ribu dirham ”.
Ahmad bin hanbal mendengar Yahya bin Muin berkata : ” Sesungguhnya aku tiada akan meminta-minta pada seseorang. Dan kalau diberikan kepadaku sesuatu oleh syetan, niscaya aku akan makan. ”. Setelah itu yahya bin Muin berkata : ” Akuhanya bergurau dan bermain-main ”. Ahmad bin Hanbal berkata :” Engkau bermain-main dengan agama ? Apakah engkau tidak mengetahui bahwa makan itu sebagian daripada agama , malahan Allah mendahululukan masalah makanan itu daripada amal ibadah ? Kemudian dia membaca ayat : ” Makanlah yang baik-baik dan beramal yang shaleh ” ( QS. Al Mukminun : 51 ). Menurut Ibnu Hanbal dalam ayat diatas, Allah lebih mendahulukan ” makanlah makanan yang baik ” baru Allah perintahkan ” beramal yang shaleh ”, berarti berhati-hati terhadap makanan yang baik itu diutamakan Allah daripada beramal yang saleh. Oleh itu dalam sebuah hadis disebutkan : ” Barangsiapa membeli kain dengan harga sepuluh dirham, dan dalam harga tersebut ada satu dirham yang haram, niscaya Allah tidak akan menerima shalatnya,selama kain itu masih ada padanya ” ( hadis riwayat Ahmad ).. malahan dalam hadis yang lain disebutkan bahwa status kehalalan makanan itu sangat mempengaruhi dalam dimakbulkannya doa seseorang : ” Banyak orang yang berusaha kesana kemari, sehingga pakaiannya berdebu, memakan yang haram, pakaian dariuang haram, dia mengangkat tanganuntuk berdoa, dengan ucapan Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku, makabagaimanakah mungkin do9anya diterima dengan keadaannya yang demikian..? ” ( hadis riwayat Muslim ). Oleh sebab itu suatu hari Sahabat Sa’ad meminta agar Rasulullah saw mendoakannya, maka nabi menjawab : Baguskanlah makananmu, niscaya doamu dimakbulkan ”( riwayat Thabrani ). Sebgain ulama menyatakan bahwa makanan yang haram itu dapat membuat karat yang menutupi hati kita sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat : Bal, raana ala quluubihim makaanuu yaksibun, Bahkan, apa yang telah mereka kerjakan akan menjadi karat (yang menutupi hati mereka ” ( QS. Al Muthaffifin : 14 ).. Semoga tulisan ini dapat membuat kita berhati-hati dengan harta yang syubhat..? Fa’tabiru ya Ulil albab. ( Renunagn Jumat ISTAID –Medan, Muhammad Arifin ismail, 19 Juni 2009
Konseling Pendidikan
By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA
Kualitas manusia diukur dengan tingkat kecerdasan dan ketinggian budipekertinya. Pada dasarnya setiap manusia telah dibekali perangkat untuk mengembangkan tingkat kecerdasan dan ketinggian budi pekertinya. Dari segi kejiwaan, sejak lahir manusia telah memiliki kapasitas yang berda-beda, tetapi dari segi pendidikan, manusia lahir dalam keadaan sama, yaitu bersih, dalam keadaan fitrah. Perjalanan hidupnyalah nanti yang akan menentukan corak dan tingkat kecerdasan serta kepribadiannya.
Ada manusia yang memiliki kapasitas tertentu mampu secara otodidak memahami fenomena alam dan sosial untuk kemudian menyimpulkannya sendiri tanpa bantuan suatu program, dan orang itu kermudian menjadi orang pandai, orang terpelajar. Sebaliknya ada orang yang telah diikutkan dalam suatu program pendidikan yang reguler, tetapi karena keterbatasan kapasitas dirinya, maka program pendidikan reguler yang diikutinya itu tak terlalu berhasil untuk mentransfer budaya yang ditawarkannya, sehingga meski jenjang pendidikannya panjang tetapi, tetapi ciri-ciri orang pandai tidak nampak pada orang itu.
Pendidikan dalam artinya yang luas , bermakna merubah dan memindahkan nilai kebudayaan kepada setiap individu dalam masyarakat. Proses pemindahan nilai budaya itu menurut Prof Hasan Langgulung dapat melalui;
(a). pengajaran, yakni pemindahan pengetahuan, bisa di sekolah, di rumah, di tempat bermain dan bisa dimana-mana. Proses pengajaran adalah memindahkan pengetahuan yang dimiliki seseorang kepada orang lain yang belum memilikinya dengan mengajarkan sebab-akibat dan memilah-milah suatu masalah.
(b). Proses pelatihan. Dalam hal menyetir mobil atau main sepakbola misalnya, maka pelatihan merupakan proses memindahkan budaya yang lebih cepat dibanding dengan proses pengajaran teori.
(c). Indoktrinasi, yaitu proses yang melibatkan seseorang untuk meniru atau mengikuti apa yang diperintahkan oleh orang lain.
Ketiga pendekatan itu; pengajaran, latihan dan indoktrinasi nampaknya digunakan sekaligus dalam proses pendidikan di masyarakat.
Pendidikan adalah transfer budaya, sementara masya¬rakat manapun serta dalam tingkat manapun mereka dalam sejarah peradaban manusia, kebudayaannya mengandung unsur-unsur; (a) akhlak atau etik, (b) estetika atau keindahan, (c) sain atau ilmu pengetahuan, dan (d) teknologi.
Sejarah peradaban manusia menunjukkan bahwa setiap bangsa berbeda dalam menitik beratkan pendidikan, ada yang mengutamakan segi etik sambil menomorduakan yang lain, ada yang mengutamakan pendidikan teknologi sambil menomorduakan yang lain dan seterusnya. Idealnya keempat unsur itu diperhatikan secara proporsional dalam kebijakan pendidikan, tetapi kebijakan pendidikan pada suatu masyarakat belum tentu ditentukan oleh ahli pendidikan, terkadang pertimbangan politis justeru lebih dominan dalam penentuan kebijakan pendidikan, sehingga hasilnya secara makro tidak seperti yang diharapkan.
Secara individual, jika langkah pendidikan yang ditem¬puh tidak sesuai dengan kebutuhan atau kapasitasnya sering menimbulkan problem-problem kejiwaan.
Tujuan dan Lingkup Pendidikan
Setiap pendidikan mempunyai tujuan, dan tujuan pendidikan biasanya diazaskan pada falsafah dan pandangan hidup yang dianggap sesuai untuk kepentingan mengembangkan dan membentuk suatu generasi mendatang sebagai pewaris generasi sekarang. Falsafah hidup orang Barat yang liberal misalnya, falsafah pendidikannya yang bersifat pragmatis, untuk membentuk manusia yang pragmatis juga, sementara pendidikan di Rusia bertujuan untuk membentuk manusia komunis, dan Indonesia yang menganut falsafah Panca Sila, tujuan pendidikan yang ditetapkan oleh Pemerintah juga untuk membentuk manusia Pancasilais.
Adanya bidang studi kewiraan, SPPB, dan last but not least Penataran Panca Sila adalah mengacu kepada tujuan pendidikan tersebut. Demikian juga bagi ummat Islam yang memiliki ideologi Islam pastilah juga memiliki falsafah pendidikan Islam.
Sedangkan lingkup obyek pendidikan adalah aspek kepribadian (psikologik) dan aspek psikopisik atau psikomotorik. Istilah yang populer di kalangan Depdiknas adalah kognitip, afektip dan psikomotorik yang kemudian dipopulerkan menjadi cerdas, trampil dan takwa, maksudnya bahwa sasaran dan obyek pendidikan nasional Indonesia adalah membentuk generasi yang cerdas secara intelektual, memiliki kepribadian manusia Indonesia yang beragama serta trampil dalam bekerja, atau sebagai manusia Indonesia seutuhnya.
Hati Seorang Ayah
Seorang ayah memiliki hati yang penuh kasih untuk anak-anaknya. Hati seorang ayah akan tahan menderita bila sakit untuk dirinya sendiri, namun tidak akan tahan disaat melihat buah hatinya yang menderita. Bahkan jika sakit itu bisa digantikannya, ayah bersedia menggantikan sakit anaknya. Itulah hati seorang ayah.
Saya mengenal seorang teman yang juga seorang ayah. Saya biasa memanggilnya Mas Jay. Kami biasa berdiskusi lewat milis dan malam itu Mas Jay berkunjung ke Rumah Amalia. Mas Jay bertutur mulanya dirinya orang yang ‘mbeling’ tidak memiliki keyakinan yang mantap dan tetap. Ketertarikan belajar sholat secara serius ketika ajakan yang begitu menyentuh dari anaknya yang masih TK. Anak yang masih relatif kecil setiap hari selalu mengajaknya untuk mengerjakan sholat. Awalnya dirinya menanggapi hal itu sebagai biasa saja.
Ajakannya itu terasa betul-betul menampar hatinya. Begitu sangat berharga dan membuatnya menangis meraung-raung justru ketika anaknya sedang sakit masih sempat mengajaknya sholat Isya’. Katanya, ditengah malam anak saya suhu badannya panas tinggi dan perutnya mengeras. Anaknya menangis tak henti-hentinya merengek mengajak saya sholat. Tanpa berpikir panjang saya memenuhi permintaannya untuk mengambil air wudhu. Setelah mengerjakan sholat, kami bergegas menuju Rumah Sakit.
Setelah diperiksa ternyata putranya harus dioperasi. Karuan saja dirinya menjadi panik. Bagaimana mungkin anaknya yang masih kecil itu dengan kekuatan fisiknya yang masih lemah untuk menghadapi operasi. ‘Saya hanya bisa berserah diri kepada Alloh SWT, saya berjanji jika anak saya sembuh. Saya akan rajin melaksanakan sholat seperti yang dimintanya.’ Tuturnya.
Katanya Mas Jay sebelum anak saya masuk ruang operasi masih sempat bertanya pada dirinya, ‘ayah sudah sholat belum.’ Kata-kata itu begitu mengiris-iris hati saya. Dulu bila mendengar ajakan teman-temannya untuk sholat selalu menolaknya karena keengganan untuk melaksanakan sholat. Sekarang kata-kata itu justru muncul dari anak yang disayanginya, bagaimana mungkin dirinya bisa menolaknya, lanjutnya. Mas Jay tak bisa menyembunyikan airmatanya yang terus bercucuran.
‘Saya menunggu putranya didepan kamar operasi’ tuturnya. Ketika lampu operasi menyala. Dirinya bersama istri tercinta tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya, hilir mudik didepan kamar operasi. Waktu seolah berjalan lama sekali. ‘Segala macam doa yang saya tahu saya panjatkan kehadirat Alloh SWT.’ Setelah begitu lama, kamar operasi itu terbuka. Seorang dokter muncul dari pintu. Mencopot sarung tangannya. ‘Operasinya berjalan dengan baik, anak bapak sekarang perlu istirahat setelah itu boleh pulang.’ Mas Jay menangis bahagia. ‘Alangkah nikmatnya anugerah Alloh SWT yang diberikan kepada saya disaat harapan mulai memudar, Alloh SWT menyelamatkan putra saya,’ tuturnya. ‘Dan sejak itu saya lebih giat untuk melaksanakan sholat karena saya harus memenuhi janji saya,’ kata Mas Jay malam itu. Saya bisa merasakan apa yang terjadi pada dirinya. Begitulah hati seorang ayah yang penuh kasih untuk sang buah hatinya.
Wassalam,
agussyafii
Hati Yang Lembut Seorang Ibu
By: agussyafii
Hati seorang ibu begitu lembut. Tangis anaknya ditengah malam mampu membangunkan dirinya sekalipun tertidur lelap. Seorang ibu mampu menahan lapar demi untuk kebutuhan makan anak-anak agar tumbuh dewasa. Disetiap langkahnya senantiasa ada tetes airmata dan doa ibu bagi kebahagiaan anak-anaknya. Itulah sebabnya Baginda Nabi Muhamad SAW bersabda, ‘aljannatu tahta akdamil ummahat’ artinya, ’surga itu dibawah telapak kaki ibu.’
begitu mulianya hati seorang ibu, demikian halnya ibu yang saya kenal. beliau mengadukan perilaku anak lelakinya yang tidak difahaminya. Kata ibu tersebut, anak lelakinya yang sekarang duduk pada semester 6 pada sebuah akademi bank sejak empat bulan lalu menunjukkan perilaku yang aneh, yaitu selalu mengurung diri dalam kamar.
Pulang dari kuliah, langsung masuk kamar, tidak mau makan bersama dengan keluarga, tidak juga duduk-duduk bersama dengan kerluarga. Makan dan minum ia ambil sendiri ketika tidak ada orang dan ia makan di kamarnya. Setiap ditanya ada masalah apa, ia selalu menjawab nggak apa-apa, saking tidak fahamnya, ayahnya sering memarahinya, dan semakin dimarahi membuatnya menjadi semakin diam dan semakin mengurung diri.
Jika ada teman-teman kuliahnya datang, ia juga tidak bersedia menemuinya dengan alasan kurang sehat. Pokoknya, kata ibunya, saya benar-benar tidak faham, tidak mengerti, dan akhirnya saya cemas. Pernah dibawa ke psikiater, tetapi ia tetap diam, tidak mau menjawab, dan ia pun merasa enggan dibawa ke psikiater. Kata ibunya, anaknya rajin salat, dan bahkan selama mengurung diri sering dipergokinya malam hari sedang salat malam.
Dari ceritera ibunya, maka saya menduga bahwa anaknya merasa tertekan karena melakukan suatu perbuatan dosa yang tidak diketahui keluarganya. Ia merasa berdosa besar, tetapi ia tidak mungkin menceriterakanya kepada keluarganya. Semakin hari ia menjadi semakin tertekan, karena dikejar-kejar oleh perasaan berdosa. Jiwanya menjadi gelap karena terkurung oleh perasaan berdosa.
Kepada ibu itu saya minta agar anaknya diajak main ke Rumah Amalia untuk ngobrol-ngobrol. Ketika datang ke rumah, saya minta ibunya pulang dulu saja, sekitar tiga jam lagi biar supir menjemput, dan pemuda itu saya ajak jalan-jalan.
Dalam obrolan perjalanan, saya katakan bahwa saya sudah tahu permasalahannya dan memberi tahu bahwa sebenarnya Alloh SWT telah mengampuni dosanya, karena kamu telah dipenjara selama empat bulan oleh hati nuranimu sendiri.dan nurani itu mempunyai hotline dengan Alloh SWT. Alloh mendengar tangisanmu ketika kamu salat malam. Saya katakan bahwa jangan kau kira Alloh itu galak, Alloh SWT itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Alloh SWT tersenyum lho melihat kamu menyesali perbuatanmu. Sudahlah, yang penting sekarang kau harus memulai lembaran baru, waspada di hari yang akan datang, jangan sekali-kali kau ulangi perbuatanmu.
Ternyata ia cukup dua kali saja bertemu saya, dan pertemuan keduapun hanya untuk mengajak sholat berjamaah di Masjid Al-Hikmah dekat rumah, tidak berbicara lagi tentang masa lalu, tetapi berbicara tentang masa depan.
Ibunya memberitahukan saya, menyatakan keheranannya atas kesembuhan anaknya, dan menanyakan problem apa sebenarnya yang selama ini dipendam oleh anaknya, maka saya jawab, tidak penting yang sudah lalu, yang penting masa depan, saya jawab demikian karena sebenarnya sampai akhirpun saya tidak tahu, tetapi pemuda itu merasa bahwa saya telah mengetahui rahasianya, padahal yang sebenarnya saya benar-benar tidak tahu karena memang tidak menanyakannya.
seseorang merasa tidak akan diampuni Alloh SWT atas dosa yang telah diperbuatnya, karena ia tidak tahu bahwa Alloh Maha Pengampun. Perasaan berdosa itu membuatnya tertekan dan tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Untungnya ia termasuk pemuda yang taat beragama, meskipun masih dalam proses belajar. Akhirnya betapa bahagianya Sang Ibu melihat perkembangan putranya yang bisa berkumpul kembali bersama keluarganya. Sayapun turut berbahagia melihat kebahagiaan Ibu itu. begitulah hati Sang Ibu, sangat lembut dan penuh cinta kasih kepada putranya.
Langit Senantiasa Tersenyum
By: agussyafii
Satu pagi seperti biasa sehabis sholat subuh, saya dan Hana suka sekali jalan-jalan. Pagi itu saya dikejutkan dengan teriakan Hana, ‘Ayah..lihat. Langitnya tersenyum’ ucapan Hana menyentak kesadaran saya, sambil melihat langit nampak ada awan yang indah seolah ada gambar sebuah senyuman.
Saya teringat satu ayat QS. Ibrahim (14) : 19, ‘Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak (keindahan)? Ayat ini memberikan gambaran bahwa begitu agungnya ciptaan Alloh SWT yang bernama langit, langit memiliki keindahannya. Sekaligus dimaknai bahwa kehidupan manusia akan menjadi indah jika terbuka seperti langit. Membuka diri dengan melihat semua sebagai awan yang indah. Hal-hal yang menyenangkan seperti kebahagiaan, senyuman, pujian, kesehatan sebagai awan yang putih. Sementara hal-hal yang menyedihkan seperti kedukaan, tangisan, makian, kepedihan, sakit sebagai awan kelabu.
Semua awan putih dan awan kelabu datang dan pergi silih berganti. Itulah yang diajarkan langit kepada kita agar senantiasa tersenyum ketika hadir awan putih dan awan kelabu semuanya menjadi nampak indah. langit yang luas dan terbuka semua kejadian yang berada di alam dinaunginya. Orang baik dan orang jahat diperlakukan sama yaitu penuh cinta dan kasih sayang oleh langit biru. Mari kita simak pesan tentang langit biru berikut ini.
‘The Expression of blue sky is compassion, because blue sky means empaty of self. When there’s unity. And Whithout the thought of Iam loving. Love becomes the natural Expression of that of oneness.’
Siapa saja yang sudah menjadi langit biru akan mengisi hidupnya dengan cinta kasih. Langit biru simbol keikhlasan. Tatkala kita meniadakan diri dari aku, ego, keangkuhan, kesombongan maka muncullah sikap Cinta kasih pada diri kita untuk sesama terjadi begitu saja, spontan, tanpa paksaan, tanpa upaya, tanpa usaha. Semuanya menyatu dalam cinta kasih secara natural dan alamiah. Itulah yang terjadi kenapa langit senantiasa tersenyum.
November 10th, 2009 at 10:56 am
MANAJEMEN KURIKULUM & EVALUASI PENDIDIKAN
MENENGAH DAN TINGGI
Siswa M. Ihsan dacholfany
Tentang Profesionalisme di bidang Pendidikan
Agar terealisasi profesionalisme dalam pendidikan, apa saja yang harus diusahakan ?
untuk meningkatkan Profesionalisme dalam pendidikan, maka yang yang harus diusahakan antara lain :
1. Gaji yang memadai. Perlu ditata ulang sistem penggajian guru agar gaji yang diterimanya setiap bulan dapat mencukupi kebutuhan hidup diriny dan keluarganya dan pendidikan putra-putrinya. Dengan penghasilan yang mencukupi, tidak perlu guru bersusah payah untuk mencari nafkah tambahan di luar jam kerjanya. Guru akan lebih berkonsentrasi pada profesinya, tanpa harus mengkhawatirkan kehidupan rumah tangganya serta khawatirakan pendidikan putra-putrinya.
2. Guru mempunyai waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri tampil prima di depan kelas. Jika mungkin, seorang guru dapat meningkatkan profesinya dengan menulis buku materi pelajaran yang dapat dipergunakan diri sendiri untuk mengajar dan membantu guru-guru lain yang belum mencapai tingkatnya. Hal ini dapat lebih menyejahterakan kehidupan guru dan akan lebih meningkatkan status sosial guru. Guru akan lebih dihormati dan dikagumi oleh anak didiknya. Jika anak didik mengagumi gurunya maka motivasi belajar siswa akan meningkat dan pendidikan pasti akan lebih berhasil.
3. Kurangi beban guru dari tugas-tugas administrasi yang sangat menyita waktu. Sebaiknya tugas-tugas administrasi yang selama ini harus dikerjakan seorang guru, dibuat oleh suatu tim di Diknas atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang disesuaikan dengan kondisi daerah dan bersifat fleksibel (bukan harga mati) lalu disosialisasikan kepada guru melalui sekolah-sekolah. Hal ini dapat dijadikan sebagai pegangan guru mengajar dalam mengajar dan membantu guru-guru prmula untuk mengajar tanpa membebani tugas-tugas rutin guru.
4. Pelatihan dan sarana. Salah satu usaha untuk meningkatkan profesionalitas guru adalah pendalaman materi pelajaran melalui pelatihan-pelatihan. Beri kesempatan guru untuk mengikuti pelatihan-pelatihan tanpa beban biaya atau melengkapi sarana dan kesempatan agar guru dapat banyak membaca buku-buku materi pelajaran yang dibutuhkan guru untuk memperdalam pengetahuannya.
Tentang Orientasi Transmisi
1. e. Upaya apa yang harus dilakukan agar penerapan orientasi tersebut dapat terlaksana secara optimal ?
Jawab :
Orientasi Transmisi supaya dapat terlaksana secara optimal adalah : Teknologi harus diperdalam secara maksimal serta dikuasai oleh masyarakat dan pemerintah. Dengan pemahaman teknologi secara maksimal, akan dapat mempermudah berbagai urusan manusia. Dengan demikian, semua urusan manusia akan lebih mudah dan cepat, yang pada akhirnya akan dapat dengan mudah membangun bangsa dan negara dengan cepat pula. Ini harus cepat dilakukan, sebab dunia sekarang selalu berubah dan selalu terjadi evolusi dengan berbagai dampak-dampaknya baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Dengan penguasaan teknologi, maka perubahan ke arh yang positif akan cepat tercapai dan dampak-dampaknya akan bisa diantisipasi dengan baik.
Oleh karena itu, maka kurikulum sekolah harus ditekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, dalam proses pembelajaran tidak hanya sekedar teori saja melainkan juga harus diperbanyak praktek-praktek yang menunjang penguasaan dilapangan tentang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan memperbanyak praktek, maka peserta didik akan lebih mudah menguasai iptek dan akan bisa langsung dipraktekkan dalam penerapan iptek. Dan ini akan lebih praktis dan bermanfaat bagi semua lapisan msyarakat yang memang menantikan iptek dalam rangka mempermudah semua urusan didalam kehidupan sehari-hari.
Walaupun orientasi masa lalu sangat dipentingkan sebagai salah satu pembelajaran untuk perbaikan dimasa-masa yang akan datang, namun juga harus belajar bagaiman mengembangkannya, sehingga akan lebih sempurna dan akan berhasil secara maksimal. Tanpa adanya inovasi-inovasi kedepan, maka akan ketinggalan dengan bangsa lainnya, bahkan akan terpuruk dan tidak ada perkembangan yang berarti Ilmu, teknologi, nilai dan budaya, telh diketemukan oleh para tokoh dimasa lalu, dengan tersusun sistemtis dan solid, namun tidak berarti dizaman sekarng ini tidak bisa meneukannya kembali yang lebih baik dan lebih sempurna.
Oleh karena itu,maka dizaman sekarang ini dibutuhkan peneliti yang cerdas dan kreatif dalam bidang ilmu, teknologi, nilai dan budaya. Yang pada akhirnya akan dapat mengambangkannya secara maksimal.
Ilmu, teknologi, nilai, budaya telah ditemukan ahli terdahulu, tersusun sistematis solid, namun harus tetap dikembangkan dan diperinci secara lebih teratur, sehingga akan menghasilkan produk yang bermanfaat bagi semu manusia. Oleh karenanya akan menciptakan sesuatu yang masih langka dan masih belum ada dimuka bumi ini. Dengan diciptakan produk unggulan yang masih langka tersebut, akan memacu para ilmuwan untuk terus meneliti berbagai kemungkinan penemuan-penemuan baru yang bermanfaat dalam mengembangkan dunia ilmu, teknologi, nilai dan budaya. Dan ini akan berhasil manakala semua potensi yang ada, diberdayakan secara maksimal dan terarah demi kemajuan masyarakat dunia.
Walaupun fungsi pendidikan adalah untuk memelihara dan mewariskan iptek, nilai, budaya pada generasi muda, namun pada hakikatnya tidak hanya sekedar itu. Lebih dari itu adalah menjadikan manusia memahami dan melaksanakan makna iptek, makna nilai, makna budaya yang sebenarnya, sehingga generasi yang akan datang akan mengalami berbagai perubahan drastis dalam bidang iptek,nilai, budaya dan sebagainya, tentu saj kearah yang lebih baik dan maju. Disamping itu juga mengagungkan nilai-nilai sepiritual yang lebih matang lagi dan lebih menjiwai.
Isi pendidikan segi intelektual, tidak hanya perenialisme atau teori, esenisalisme atau praktis saja, namun harus mempertimbangkan dampak-dampaknya baik segi positif maupun negatif. Termasuk juga mempertimbangkan proses pendidikan, implementasi proses dan penerapan proses secara terpadu dan terarah, sehingga kalau prosesnya baik dan bermakna maka hasilnyapun akan bermakna dan berorientasi kedepan yang lebih cerah dan lebih maju.
Proses pembuatan teorinya bagaimana dengan mempertimbangkan latar belakang munculnya teori, serta proses menuju penerapan yang praktis dan latar belakang mengapa dibutuhkan kepraktisan setelah teori, apa tidak ada yang lebih sesuai lagi. Biasanya praktis akan mengabaikan kesesuaian dan kesempurnaan implementasi dari teori, sehingga berkesan apa adanya dan terkesan darurat. Maka disamping dibutuhkan teori dan praktis, masih dibutuhkan berbagai dampak yang akan terjadi, juga prosesnya bagaimana apakah sesuai dengan standar yang ada atau hanyalah sekedarnya saja.
Guru tidak hanya sebagai ekspert dan model saja, namun lebih dari itu yaitu sebagai ing ngarso sung tulodo ing madyo mangun karso tut wuri handayani sebagaimana Ki Hajar Dewantara membuat konsep seorang guru. Didepan memberi contoh, ditengah memberi berbagai motivasi, dibelakang mendorong supaya para siswa aktif dan mau berjuang sekuat tenaga demi keberhasilan dalam mencapai makna dari belajar. Disamping itu guru jug tidak hanya itu saja, namun harus mau membenahi diri, mau dikritik demi perbaikan diri, dan mau berkorban waktu, tenaga, pikiran, harta benda dan sebagainya demi keberhasilan peserta didik. Itulah figur seorang guru yang ideal dan tahu tentang hak dan kewajiban, tahu tugas dan tanggungjawabnya, serta tahu tentang jati dirinya sebagai seorang guru bagi semua kalangan. Kurikulum memeang menekankan isi atau materi ajaran, namun jangan lupa tentang kebutuhan pasar dilingkungan kita juga sangat penting demi terserapnya peserta didik dalam dunia kerja. Dengan memperhatikan kebutuhan pasar, maka peserta didik dapat secara langsung mengabdikan ilmunya didalam perusahaan dan didalam dunia usaha yang pada akhirnya akan bermanfat bagi semua lapisan masyarakat. Isi kurikulum bersumber pada disiplin ilmu (tersturktur dan sistematis) sehingga akan meraih keberhasilan, namun masih perlu ditambah dengan imtaq (iman dan taqwa). Ini sangat penting yang pada akhirnya peserta didik akan disiplin dalam ilmu dengan tersturuktur dan sestematis, disamping dengan imtaq (iman dan taqwa).
Memang guru harus menguasai materi ajaran dengan baik, namun pada hakikatnya tugas guru adalah membuat peserta didik menjadi lebih paham dan lebih pandai serta luas pengetahuannya dalam berpikir. Memang fungsi guru sebagai penyampai ilmu, teknologi namun tidak sesederhana itu, harus diberengi dengan keyakinan yang penuh bahwa permasalahan itu akan selesai berkat pertolongan dan ridla dari Allah swt. Dengan demikian maka akan selalu ingat akan kebesaran-Nya dan inilah pentingnya niat bahwa semuanya itu adalah ibadah.
Fungsi guru tidak hanya sebagai penyampai ilmu-teknologi,nilai saja namun sebagai fasilitator dalam menemukan makna belajar ilmu, teknologi, nilai secara maksimal sehingga membuat peserta didik terbuka cakrawala berfikir dan kreatif dalam mengembangkannya.Sehingga siswa tidak hanya bekerja keras saja, namun lebih dari itu memahami arti dan makna yang sesungguhnya tentang kerja keras dan keutamaan-keutamaan kerja keras. .Proses belajar ekspositori sangat baik jika diberangi dengan niat dan implementsi belajar ekspositori itu. Yang pada akhirnya peserta didik akan menjadi berkualitas dan mandiri.
Tentang Orientasi Transaksi
2. e. Upaya yang harus dilakukan agar penerapan orientasi transaksi dapat terlaksana secara optimal ?
Jawab :
Orientasi transaksi dapat terlaksana secara optimal, jika prosesnya dilakukan secara maksimal dan sesuai standar serta mempunyai kesungguhan. Dengan demikian dalam memecahkan masalah tanpa masalah baru, bahkan tuntas. Upayanya, selidiki dulu akar masalahnya, kenali masalahnya, analisis masalahnya, apa sebab-sebabnya, siapa saja yang terlibat masalah, dan kapn masalah timbul besarta dampak-dampaknya. Ini penting dalam rangka pemecahan masalah tanpa masalah, dan masalah itu akan selesai dengan bermusyawarah untuk mencapai mufakat.
Memang orientasi ke masa lalu dan masa yang akan datang sangat penting, namun tidak berhenti disitu saja, setiap detik yang kita alami sekarang ini adalah waktu yang sesuai untuk memperbaiki diri. Maka gunakan waktu yang sedang berjalan, untuk selalu introspeksi diri, pembenahan diri, dan perbaikan diri.
Manusia sebagai makhluk sosial, sehingga butuh hidup dan bekerja sama dengan lainnya. Namun apakah betul sudah nyata dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Maka jiwa sosial itu tumbuh kalau kita merasakan hal ini. Pendidikan sebenarnya tidak hanya sekedar memperbaiki kehidupan namun juga memahami makna kehidupan yang sesungguhnya. Oleh karena itu upaya pendidikan sehingga menghasilkan kehidupan yang lebih baik dan memahami mananya adalah dengan memperbaiki mutu pendidikan dan mutu tenaga pengajar sesuai standar Internasional. Dengan perbaikan mutu pendidikan dan mutu guru, maka prosesnya juga berjalan sesuai standar, dan hasilnyapun akan standar. Dengan demikian maka tujuan pendidikan akan benar-benar tercapai.
Pendidikan adalah kehidupan masyarakat, sekolah pintu masuk masyarakat, maka upayanya supaya benar-benar hasil pendidikan diterima masyarakat adalah pendidikan itu harus dibarengi dengan akhlak terpuji. Dengan akhlak terpuji, menjadikan masyarakat akan simpati dan akan mempercayai kita. Dan karena percaya maka akan menerima kita dengan segala kelemahan dan kelebihannya.
Upaya nyata supaya pendidikan benar-benar menjadi wadah dalam menyiapkan siswa sehingga menjadi warga yang aktif adalah dengan memperbanyak pembelajaran secara interaktif sehingga guru sebagai fasilitator, sedangkan siswa secara aktif berdiskusi dan menggali serta mengembangkan ilmunya dari berbagai sumber dengan bimbingan guru. Tidak hanya itu saja, juga diperlukan pengabdian pada masyarakat dengan diadakannya kerja bakti membersihkan sampah lingkungan sekitar sekolah, dengan memperbanyak kegiatan masyarakat misalnya bakti sosial, menggalang dana untuk korban bencana alam, memperbaiki fasilitas umum dan tempat ibadah, dan lain-lain. Serta penting juga adanya kegiatan penelitian yang melibatkan masyarakat umum, sehingga hasilnyapun untuk kepentingan dan perbaikan masyarakat kedepan.
Upaya supaya karakteristik kurikulum berjalan dengan baik sehingga bisa memecahkan masalah kemasyarakatan adalah dengan perencanaan kurikulum yang memadai yang melibatkan masyarakat yang berkepentingan dalam pengguna output pengguna kurikulum. Dengan demikian maka kurikulum akan semakin peka terhadap berbagai permsalahan yang muncul dalam masyarakat luas.
Upaya supaya kurikulum berfokus pada isi dan proses disusun melibatkan siswa adalah dengan memahami lndasan dasar serta hakukat dari isi kurikulum, dan proses kurikulum. Maka siswa akan mengetahui pentingnya isi dan proses kurikulum, serta keterlibatannya dalam kurikulum tersebut. Dengan demikian maka semua yang terlibat dalam kurikulum akan memerlukan pentingnya isi dan proses kurikulum yang berkualitas, sehingga akan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Isi kurikulum merupakan masalah yang masih hanyat dan penting bagi kehidupan yang akan datang maka upayanya adalah menjelskan pada pengguna kurikulum untuk berorientasi pada masalah aktual yang sedang berlangsung, sehingga benar-benar kurikulum yang berjalan tidak usang atau ketinggalan jaman. Ini harus dimulai dari guru, lalu siswa serta lingkungan masyarakat. Dan mereka meyakini bahwa kurikulum yng berjalan memang sangat penting untuk memperbaiki keadaan dimasa-masa yang akan datang.
Upaya yang dilakukan dalam rangka menjadikan kurikulum benar-benar proses pembelajaran yang kooperatif dalam kelompok adalah dengan adanya inivasi-inovasi baru dari guru dalam menciptakan keadaan kelas yang kondusif. Dengan kreatifnya guru didalam kelas untuk menciptakan situasi yang kondusif, maka dibutuhkan perangkat-perangkat yang memadai dan alat penunjang pembelajaran yang standar. Maka interaksi dalam proses pembelajaran yang kooperatif dalam kelompok belajar akan lebih memadai dan lebih mudah dalam mencapai hakikat tujuan kurikulum tersebut.
Upaya supaya siswa dan guru belajar bersama dan siswa belajar dengan banyak sumber, adalah dengan selalu memberikan motivasi dan memberikan pemahaman tentang petapa pentingnya belajar bersama dalam memecahkan permasalahan dan ditunjang dengan literatur yang lengkap, merupakan hal yang sangat penting. Maka keberhasilan belajar akan tercapai, manakala antara guru dan siswa saling berinteraksi dalam memecahkan masalah dan adanya literatur yang lengkap. Maka ini perlu diadakan sosialisasi terhadap siswa dan orang tua siswa, serta calon siswa dan orang tuanya.
Pentingnya penilaian proses dan hasil, menjadikan diperlukan adanya standar nasional dan internasional. Walaupun secara bertahap dn berproses kita akan mengarah ke standar yang paling tinggi, namun paling tidak sekarang ini adalah proses harus berjalan dengan bak dan sungguh-sungguh menjlankannya maka hasilnyapun juga akan lebih maksimal lebih maju dan lebih sempurna. .
Tentang Orientasi Transformasi :
3. e. Upaya yang dilakukan agar penerapan orientasi transformasi dapat terlaksanakan secara optimal ?
Jawab :
Upaya yang dilakukan agar terlaksananya orientasi transformasi adalah dengan berorientasi pada pengembangan kepribadian yang maksimal, sehingga menjadi pribadi unggul dan pribadi yang bertanggungjawab serta dapat dipercaya. Ini semuanya butuh waktu dan proses yang terus menerus dan terpadu terhadap potensi yang ada untuk dikembangkan seoptimal mungkin.
Memang orientasi di masa sekarang sangat penting namun harus diberengi dengan perbaikan-perbaikan yang nyata dan jelas apa-apa yang menjadi prioritas perbaikan diri. Memang siswa mempunyai potensi intelektual, sosial, afektif, fisik-motorik, dan berkembang sendiri, namun itu perlu digali lagi secara maksimal sehingga menjadi pribadi unggul dan pribadi dewasa yang mandiri dalam segala hal, bahkan mampu mengubah orientasi msyrakat yang konsumtif menjadi produktif.
Pendidikan ibarat petani, maka harus berupaya kemandirian petani yang baik dan terarah serta terpadu, sehingga bangsa ini bisa besar karena mengutamakan pembangunan sektor pertanian yang unggul, terarah dan mandiri. Berilah penghargan pada kum petani yang tanpa kenal lelah bekerja demi memajukan sektor pertanian. Upaya pendidikan yang baik adalah dengan mengutamakan pendalaman makna hidup, makna mati dan hidup sesudah mati.
Belajar sambil berbuat memang sangat baik akan tetapi lebih sempurna lagi bila proses belajarnya terukur, hasilnyapun standar Internasional. Semua itu akan tercapai kalau semua pihak yang terlibat dalam proses belajar, selalu mendukung dan mempunyai niat baik untuk meruban tatanan kehidup an ke arah yang lebih baik lagi.
Terpuasat pada siswa, siswa sebagai subyek belajar maka yang perlu dilakukan adalah dengan jalan pemahaman guru tentang betapa pentingnya memahami apa itu belajar, apa manfaatnya, apa tujuannya, mengapa beljar penting, dan sebagainya. Memang bahan ajar harus sesuai dengan minatnya namun lebih dari itu, belajar harus terfokus bada bidangnya. Memang pentingnya siswa dilibatkan dalam penyusunan kurikulum. Namun jangan berhenti sampai disitu saja, dibutuhkan para ahli dibidangnya untuk dikumpulkan dan dimintai pendapatnya tentang pembuatan kurikulum sesuai keahliannya masing-masing. Ini penting dalam rangka membuat kurikulum sesuai kebutuhan pasar dan kebutuhan disiplin ilmu dimasing-masing bidang.
Kurikulum minimal dizaman ini memang sangat menjamur, namun jarang yang membuat kurikulum standar. Maka dibutuhkan pembuatan kurikulum yang standar Internasional. Upayanya adalah study banding dengan negara besar seperti USA. Setelah study banding, maka tinggal memasukkan yang memang perlu dilaksanakan di Indonesia. Bahkan bisa diupayakan, para ahli kurikulum USA dikibatkan membuat kurikulum di Indonesia, dengan harapan antara pendidikan Indonesia dengan USA adalah sama dan standar. Inilah salah satu upaya supaya tidak ketinggalan jauh dengan negara maju dunia.
Upaya yang dilakukan dalam proses pembelajaran memang dengan inkuiri, diskaveri, pemecahan masalah. Namun upaya itu akan maksimal bila ditambah dengan menemukan makna tertinggi dari inkuiri, diskaveri dan pemecahan masalah. Dengan memahami maknanya, maka akan memahami makna tertinggi dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Dengan memahami makna tertinggi proses pembelajaran, menadakan insan sadar terhadap semua tindakan, yang akhirnya berujung pada pembentukan manusia paripurna.
Tentang KTSP
1. b. Apakah KTSP dapat merealisasikan pendidikan standar ? Jelaskan dengan argumentasi yang kuat ?
Jawab :
Model pengelolaan pengembangan kurikulumnya benar-benar berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas. Dengan pengelolaan pengembangan kurikulum yang kreatif dan sesuai standar nasional dan internasional, maka hasilnyapun akan standar. Kebutuhan masyarakat luas mencakup seluruh bidang kehidupan dan seluruh terapan ilmu yang dapat membantu kemajuan dan segala urusan manusia menjadi lebih mudah. Maka KTSP akan berjalan dengan baik, dan hasil pendidikannyapun akan standar.
Dalam pengelolaan dari sentralisasi menjadi desentralisasi sebagai misalnya kerangka dasar dan struktur kurikulum disusun oleh puast (BNSP) dan silabus, SAP/ Satpel/ RPP disusun oleh sekoah, maka ini sudah jelas bahwa KTSP dapat merealisasikan standar pendidkikan ke arah yang lebih baik dan maju. Karena seluruh komponen yang potensial baik di daerah masing-masing maupun ditingkat pisat, secara aktif dilibatkan. Dengan kerjasama yang baik antara potensi pusat dan daerah, merumuskan KTSP ini, maka saya berkeyakinan bahwa proses pengelolaan dari sentralisasi menjadi desentralisasi akan lebih bik dan maju, potensi SDM daerah akan semakin diberdayakan dan KTSP akan meuju pada pendidian standar.
Dengan memberdayakan dan memaksimalkan peran Komite Sekolah dan madrasah dalam mengembangkan kurikulum dan silabus, akan lebih menyempurnakan dan menambah perbaikan kurikulum dimasa-masa yang akan datang. Ini adalah wujud kepedulian dari semua potensi msyarakat untuk berniat baik menyempurnakan kurikulum yang ada. Sehingga akan membawa kearah yang labih baik dan sempurna yang akhirnya pendidikan akan sesui dengan standar.
Dengan pengembangan kurikulum berbasis sekolah, maka sekolah akan lebih peka terhadap kebutuhan pasar dan masyarakat luas yang dibuktikan dengan pembuatan kurikulun yang sangat memperhatikan lingkungan sekolah, ini akan lebih mengarah pada pendidikan standar.
Karena KTSP adalah merupakan kurikulum sekolah, maka dengan semua sekolah menggunakan dan membuat kurikulum sekolah secara keseluruhan, maka sekolah secara tidak langsung membawa pendidikan kearah standar yang ada dan berlaku sampai saat ini. Sebab standar yang ada adalah standar sekolah, baik standar daerah, nasional maupun internasionl.
Dengan dapat digunakannya model KBK, subyek akademik, Humanistik, Rekonstruksi sosial, KTSP akan lebih leluasa mengmbangkan kurikulum sesuai dengan keadaan sekolah dan lingkungannya. Oleh karena semua pengguna KTSP juga demikian, maka secara keseluruhan secara tidak langsung sesuai dan mengarah pada standar penidikan.
Dapatkah kurikulum sekolah mencapai kurikulum standar, standar apa sajakah yang dimaksud ?
Jawab :
Kurikulum sekolah dapat mencapai kurikulum standar, jika mempunyai standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan standar kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Standar yang dapat dijangkau kurikulum sekolah di Indonesia adalah standar Nasional, walaupun ada juga yang berusaha untuk mencapai standar Internasional.
Sebab di Indonesia, sangat minimnya perhatian Pemerintah terhadap dunia pendidikan sangat berpengaruh terhadap standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan standar kependidikan, standar sarana dan prasasrana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan. Dengan minimnya dana dari pemerintah, sangat berdampak pada minimnya pencpaian setiap sekolah memenuhi satndar nasional.
Apalagi di beberapa daerah terpencil yang jauh dari jangkauan pemerintah. Ini masih sangat terbengkelai dan sangat memprihtinkan dengan berbagai gedung yang terbengkalai dan sudah rusak. Buku perpustakaan yang sudah lusuh dan kurang lengkap, tenaga pengajar yang kurang, proses belajar sering terganggu akibat bencana alam, banjir, tanah longsor dan sebaginya.
Fakta ini menjadikan terhambatnya pencapaian sekolah yang standar minimal nasional,apalagi Internasional sangatlah jauh. Namun walaupun demikian sebenarnya semua itu bisa diatasi kalau seluruh potensi bangsa dan lingkungan sekitarnya memperhatikan dan bahu-membahu dalam memajukan sekolah. Dengan saling membantu berbagai kekurangan yg ada disekolah, maka akan tercipta situasi sekolah yang kondusif.
Dengan situasi yang kondusif dan teratur, maka akan mudah mencapai standar minimal nasional. Bahkan bila mampu tidk menolak kemungkinan akan menjadi sekolah unggulan yang mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya tidak hanya di Indonesia saja, namun bisa bersaing dengan sekolah yang ada di Luar Negeri. Ini akan terwujud andikata semua potensi bangsa dan masyarakat, bersama-sama dengan suka rela membantu dan memprioritaskan sekolah menjadi sekolah unggulan.
Disamping kemauan masyarakat dan bangsa memprioritaskan sekolah menjadi sekolah yang unggul sehingga membantu baik materiil maupun spirituil, juga tenaga guru harus benar-benar berkualitas. Guru yang berkualitas itu tidak hanya jenjang pendidikannya tinggi saja, namun juga pemilkirannya jauh kedepan. Sehingga bisa membawa siswa menjadi lebih kritis dan mampu berfikir sistematis dan pandai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, yang didasari dengan iman dan taqwa.
Ini dirasa sangat penting demi memajukan generasi muda kedepan, menjdi generasi yang berkualitas handal dan siap menghadapi berbagai tantangan zaman serta mampu bersaing dengan lainnya.
Dan yang lebih penting lagi adalah peran orang tua siswa dalam pembentukan akhlaq mulia, yang bisa mencetak generasi yang baik tingkah lakunya, hormat dengan orang tua, guru, kerabat, masyarakat dan sebagainya. Sebab yang terbanyak dalam menggunakan waktu adalah dirumah, sehingga peran orang tua begitu penting. Semuanya berawal dari keluarga, kalau pendidikan keluarga baik, maka pendidikan disekolah juga akan berhasil. Biasanya tugas-tugas sekolah akan selelsai dengan dorongan orang tua dirumah. Maka prestsi di sekolah akan unggul dan bisa bersaing denga siswa lainnya. Kalau pendidikan keluarga baik, maka pendidikan sekolah juga baik, kalau pendidikan sekolah baik maka akan mendapatkan prestasi yang memuaskan. Maka bisa kemungkinan akan tercetak pendidikan yang standar minimal standar nasional. Jadi dibutuhkan kerjasama antara orang tua dengan pihak sekolah demi pencapian standar nasional.
Tentang Profesionalisme di bidang Pendidikan :
Profesional terkait dengan bidang ilmu, pekerjaan dan mental kepribadian, jelaskan konsep anda disertai argumentasi yang kuat ?
Jawab :
Konsepnya adalah Profesional dalam bidang ilmu, artinya bahwa seseorang itu menekuni ilmu tertentu secara mandalam dan menyeluruh sampai keakar-akar permasalahannya. Sehingga keahliannya akan nampak dari penguasaan ilmu tertentu yang menjadi pilihannya. Dan dalam mempelajari ilmu tertentu tersebut, tidak hanya sekedar teori saja, namun akan lebih nampak pada prilaku dan implementasinya terhadap ilmu yang ditekuninya dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan keprofesionalan terhadap ilmu tertentu, ilmu yang ditekuni menjadikan pilihan untuk penelitian yang mendalam dan bermakna yang pada akhirnya akan menemukan sesuatu hal baru dan akhirnya bisa bermanfaat bagi sesamanya. Dan selanjutnya begitu bahkan selalu berinovasi baru dan terus berkarya dalam bidang ilmu yang memang ditekuninya. Pengabdian masyarakat menjadi pilihan utama dalam menggeluti ilmu tertentu. Dengan pengabdian masyarakat, maka ilmu yang ditekunianya akan bermanfaat, dan akan lebih didalami bahkan akan terus bertambah ilmunya, dikarenakan selalu dikembangkan ilmu yang ditekuni bersama-sama masyarakat.
Profesionalisme dalam pekerjaan adalah segala sesuatu pekerjaan yang ditekuni secara mendalam dan bermakna, yang secara keseluruhan pekerjaan yang ditekuni tersebut telah dikuasainya. Dan karena pekerjan tertentu telah dikuasainya, maka sangat memahami berbagai masalah, hambatan, tantangan, ancaman, peluang, pesaing dan sebagainya. Karena menguasainya maka akan dengan mudah rintangan-rintangan yang dihadapinya bisa diselesaikan dengan baik.
Maka kalau bisa menyelesaikan berbagai macam masalah yang dihadapinya yang berkaitan dengan pekerjannya, serta bisa membuat inovasi baru, dan mengembangkannya menjadi sesuatu konsep yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara, inilah yang disebut sebagai profesionalisme dalam pekerjaan. Ini merupakan salah satu pekerjaan sehari-hari yang digeluti dan dilaksanakan secara konsisten dan teliti serta dikuasainya secara mendalam dan terukur dengan standar kerja yang sudah ada.
Profesionalisme dalam mental kepribadian adalah mampu secara maksimal dalam menemukan jatidirinya secara integrasi dengan berbagai potensi dan bakat yang ada pada dirinya, mampu mandiri serta produktif dalam segala hal yang positif sehingga akan menjadi bermanfat bagi sesamanya dan akhirnya menjadi dewasa dalam berkepribadian. Ini sangat diperlukan oleh setiap manusia, sehinga akan menjadi pribadi unggul dan mempunyai jati diri yang kuat dan terpadu yang dapat menjadi figur percontohan bagi yang lainnya.
Dengan demikian, dengan profesional dalam mental kepribadian, akan menjadi manusia utuh dan punya daya tarik tersendiri yang akhirnya menjadi figur sentral bagi yang lainnya. Jika ini sebagai seorang pendidik, maka kepribadiannya benar-benar menarik dan dapat menjadi contoh bagi yang lainnya. Siswa akan mencontoh guru yang mempunyai mental kepribadian profesional. Begitu pula guru lainnya, juga akan mencontoh guru yang mempunyai profesional dalam mental kepribadian. Bahkan diharapkan setiap guru mampunyai profesionalisme dalam mental kepribadian.
Jadi profesionalisme di bidang pendidikan yang terkait dengan bidang ilmu, pekerjaan dan mental kepribadian, adalah sosok yang sangat unggul dan sangat mulia untuk ditiru dan dicontoh, dikarenakan ilmunya yang dalam dan penuh makna, pekerjaannya yang selalu sukses dan bisa menyelesaiakn berbagai permasalahan, serta mental kepribadian yang mulia dan mempunyai ketauladanan yang baik dan mandiri serta dewasa. Di bidang pendidikan guru seharusnya mempunyai sikap dan tingkah laku yang baik dan dapat menjadi figur percontohan bagi murid dan masyarakat. Dengan demikian, akan dapat mencetak generasi yang profesional dalam bidang ilmu, pekerjaan dan mental kepribadian.
BAGIAN III
menterjemahkan buku berjudul,” MISSIONS OF THE COLLEGE CURRICULUM A Contemporary Review With Suggestions,” dari bab 5 sampai bab 9 :
Bab 5 membahas tentang Komponen dari Perguruan Tinggi. Didalam bab ini membahas tentang kurikulum, kurikulum mempunyai tiga dimensi yang utama, secara konstan saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.
1. Ditentukan oleh cakupan dari pokok yang diajar serta prosesnya.
2. Ditentukan oleh penggunaan dari pengetahuan untuk berbagai tujuan untuk memperoleh pelajaran sungguh-sungguh mendalam sekitar satu masalah, memperluas dari pemahaman melalui/sampai suatu kenalan dengan pokok serveral, atau untuk memperoleh ketrampilan yang tertentu.
3. Ditentukan oleh ukuran, karakter, dan misi dari jenis yang berbeda dari institusi.
Secara umum dipercaya oleh ilmuwan kedua-duanya baik scientists maupun nonscientists bahwa semua anak, dididik harus mempunyai pemikiran ilmiah minima mengetahu huruf. Doty dan Zinberg menyatakan bahwa untuk memperkuat lebih lanjut program ilmu pengetahuan ditawarkan di sekolah menengah, sedikitnya bagi tingkat yang sekolah menengah yang mau ke perguruan tinggi harus memperoleh ilmu fisika, ilmu kimia, dan biologi, dan barangkali ilmu pengetahuan komputer dan kalkulus.
Para advokat menawarkan kursus seperti di plonco di perguruan tinggi untuk para siswa sebagai tambahan dalam bidang ilmu pengetahuan biologi dan phisik. Akhirnya, mereka menyatakan bahwa masing-masing ilmu pengetahuan biologi dan phisik bisa menawarkan beberapa kursus alternatif.
Para advokat menawarkan kursus seperti di plonco di perguruan tinggi untuk para siswa sebagai tambahan dalam bidang ilmu pengetahuan biologi dan phisik. Akhirnya, mereka menyatakan bahwa masing-masing ilmu pengetahuan biologi dan phisik bisa menawarkan beberapa kursus alternatif. Seni sudah masuk kurikulum mahasiswa melalui pengajaran ekstrakurikuler sejak abad pertengahan ke-19, sebagai pengetahuan praktis atau pendidikan yang disiapkan para laki-laki dan perempuan untuk ” beberapa profesi dan pengajaran dalam hidup. Seni sebagai alternatif gaya yang simbolis untuk menyampaikan pengetahuan melalui kata-kata yang menyentuh perasaan, melalui gambaran di dua dan tiga dimensi, kontruksi bunyi;serasi dan bergeraknya badan.
Dengan seni, universitas dan perguruan tinggi menjadi lebih baik.
Ini bisa terjadi karena seni merupakan warisan/pusaka dari gaya ini.
Sagen’s berpendapat: bahwa perguruan tinggi dalam mendidik mahasiswa, dapat mengambil pengalaman para profesi yaitu:
• Menjelaskan pengetahuan yang dihafal dengan baik, jangan mengikuti cara kebanyakan orang dalam melakukannya.
• Perlu menggambarkan kemampuan dengan cepat dengan kata-kata yang berkualitas dan kompleks.
• Menetapkan pilihan karier dan pengembangannya sehingga pribadi dapat tumbuh menjadi lebih baik.
• Mengembangkan suatu perasaan/pengertian yang sesuai tentang tanggung jawab bagi masyarakat.
• Dasar tentang Curriculum kebanyakan perguruan tinggi di Amerika Serikat mempunyai persyaratan derajat tingkat yang terdiri atas lima komponen yang utama:
• Ketrampilan pelajaran tingkat lanjut.
• Pemahaman umum” komponen dari pendidikan umum.
• Komponen luas dari pendidikan umum.
• Yang utama ( atau konsentrasi).
• Memilih.
BAB 6
SEKITAR KELEMBAGAAN
Universitas dan Perguruan tinggi menyeluruh menawarkan tidak hanya suatu kurikulum pengetahuan budaya tetapi juga sedikitnya satu profesional dan program yang khusus, seperti administrasi perniagaan atau rancang-bangun.
Tujuh belas persen dari para siswa mereka mengutamakan di pendidikan, dan dengan persentase yang sama mengutamakan di bisnis, perdagangan, dan managemen. Kurikulum universitas dan perguruan tinggi di Amerika Serikat, sangat dipengaruhi oleh kemampuan yang akademis, sasaran sekolah, hasil setiap bidang pendidikan dan kelengkapan/keluasan dari program mereka. Pada bidang riset di perguruan tinggi/ universitas, ukurannya yang besar adalah mempunyai kemampuan tinggi bidang akademis dan masuk perguruan tingginya dengan kualitas yang baik.
BAB 7
MISI DARI MAHASISWA
Societal Needs From dan Individual Report yang dikeluarkan di 1957, kita mencatat 6 tingkatan:
1. Peningkatan pemahaman dari sifat dan tentang dirinya.
2. Agar para siswa punya pemahaman berpikir, menghargai gagasan, gaya, membentuk penilaian tentng nilai.
3. Kemampuan untuk dipercaya.
4. Mendasari kemampuan, menetapkan dan membentuk pondasi yang harus dibangun.
5. Pengalaman dari berbagai jenis pengalaman yang intelektual serta luas dan mendalami pada suatu bidang tertentu.
6. Akhirnya, di tingkat dengan sepenuhnya spesifik,, kita mempunyai program yang tertentu para siswa mengambil.
Ada enam (6) standard pendidikan mahasiswa:
1. Mampu berpikir dan menulis dengan jelas dan efektif, mampu berkomunikasi dengan ketepatan, keyakinan, dan kekuatan.
2. Mempunyai suatu penghargaan pemahaman dan pengetahuan dari alam semesta, dari masyarakat, dari diri sendiri paham mathematik, ilmu pengetahuan biologi dan phisik.
3. Mempunyai perasaan/pengertian tentang kultur lain.
4. Mempunyai pemahaman berpikir tentang, moral dan permasalahan etis.
5. Tahu adat dan menjunjung tinggi etika dan standard moral.
6. Mempunyai kedalaman dalam beberapa bidang pengetahuan.
4.
Saran yang sedikit ambisius untuk perguruan tinggi:
• Memandu kepemimpinan yang akademis dalam menentukan program
pendidikan.
• Menyediakan informasi tentang niat institusi sesuai dengan kebutuhan dan
minat siswa sendiri.
• Menyediakan sarana perguruan tinggi.
Seorang siswa harus bisa membangun untuk dirinya:
• Trampilan
• Kemampuan dalam memilih dan masuk suatu karier.
• Melaksanakan tanggung-jawab kewarga negaraannya.
• Kapasitas dan Minat yang kreatif.
BAB 8
PENDIDIKAN UMUM
(Suatu Gagasan di situasi sulit)
Perguruan tinggi menyediakan pelajaran yang:
• Membangun ketrampilan.
• Distribusi waktu untuk ilmu pengetahuan, ilmu sosial, dan seni.
• Mengintegrasikan pelajaran dalam cara-cara pemahaman yang luas.
Pendidikan sangat penting karena:
• Kebutuhan ketrampilan
• Karena masa depan ingin lebih baik
• Adanya permasalahan
• Menjadi generasi yang berkualitas
• Bisa memahami dan mengambil bagian di dunia
BAB 9
CERITA PENTING YANG BERAKHIR BAIK
Problem institusi:
• Jurusan tersedia pada suatu perguruan tinggi akan bertanding tiap-tiap minat siswa
• Jurusan bertukar-tukar di unsur dan mutu
• Beberapa jurusan yang tidak punya nilai jelas harus hati-hati
Perguruan tinggi perlu pindah ke empat arah yang utama. Mereka perlu:
• Membatasi total jumlah jam yang mungkin diinvestasikan dalam wisuda
• Mendorong deparemen untuk kembangkan lebih banyak kursus
• Mendorong pengembangan dari dua pilihan yang utama pada setiap departemen
• Menyediakan lebih banyak peluang untuk para siswa untuk mengambil jurusan yang ganda, (pelajaran) pelengkap, interdisciplinary jurusan
b. Inovasi dan keunggulan yang terkandung dalam buku “MISSIONS OF THE COLLEGE CURRICULUM A Contemporary Review With Suggestions,” dari bab 5 sampai bab 9 :
Bab 5 membahas tentang Komponen dari Perguruan Tinggi. Inovasinya adalah adanya konstan saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Ini dikarenakan adanya kurikulum yang ditentukan oleh cakupan dari pokok yang diajar serta prosesnya. Juga ditentukan oleh penggunaan dari pengetahuan untuk berbagai tujuan untuk memperoleh pelajaran sungguh-sungguh mendalam sekitar satu masalah, memperluas dari pemahaman melalui/sampai suatu kenalan dengan pokok serveral, atau untuk memperoleh ketrampilan yang tertentu. Serta ditentukan oleh ukuran, karakter, dan misi dari jenis yang berbeda dari institusi.
Semua anak dididik harus mempunyai pemikiran ilmiah minima mengetahu huruf. Untuk memperkuat lebih lanjut program ilmu pengetahuan ditawarkan di sekolah menengah, sedikitnya bagi tingkat yang sekolah menengah yang mau ke perguruan tinggi harus memperoleh ilmu fisika, ilmu kimia, dan biologi, dan barangkali ilmu pengetahuan komputer dan kalkulus. Akhirnya, mereka menyatakan bahwa masing-masing ilmu pengetahuan biologi dan phisik bisa menawarkan beberapa kursus alternatif.
Seni sudah masuk kurikulum mahasiswa melalui pengajaran ekstrakurikuler sejak abad pertengahan ke-19, sebagai pengetahuan praktis atau pendidikan yang disiapkan para laki-laki dan perempuan untuk ” beberapa profesi dan pengajaran dalam hidup. Seni sebagai alternatif gaya yang simbolis untuk menyampaikan pengetahuan melalui kata-kata yang menyentuh perasaan, melalui gambaran di dua dan tiga dimensi, kontruksi bunyi;serasi dan bergeraknya badan.
Dengan seni, universitas dan perguruan tinggi menjadi lebih baik.
Ini bisa terjadi karena seni merupakan warisan/pusaka dari gaya ini. Perguruan tinggi dalam mendidik mahasiswa, dapat mengambil pengalaman para profesi yaitu: menjelaskan pengetahuan yang dihafal dengan baik, jangan mengikuti cara kebanyakan orang dalam melakukannya. Perlu menggambarkan kemampuan dengan cepat dengan kata-kata yang berkualitas dan kompleks. Menetapkan pilihan karier dan pengembangannya sehingga pribadi dapat tumbuh menjadi lebih baik. Mengembangkan suatu perasaan/pengertian yang sesuai tentang tanggung jawab bagi masyarakat.
Dasar tentang Curriculum kebanyakan perguruan tinggi di Amerika Serikat mempunyai persyaratan derajat tingkat yang terdiri atas lima komponen yang utama: Ketrampilan pelajaran tingkat lanjut, pemahaman umum” komponen dari pendidikan umum, komponen luas dari pendidikan umum, yang utama ( atau konsentrasi), memilih. Maka dapat dikatakan bahwa inovasi dan keunggulan dalam bab 5 adalah adanya rumuasan kurikulum yang matang dan terpadu dengan memberdayakan seluruh kekuatan yang ada dalam rangka tercapainya tujuan pendidikan.
Dalam bab 6 yang membahas tentang sekitar kelembagaan, bahwa lembaga pendidikan tinggi menawarkan tidak hanya suatu kurikulum pengetahuan budaya tetapi juga sedikitnya satu profesional dan program yang khusus, seperti administrasi perniagaan atau rancang-bangun. 17 % dari para siswa mereka mengutamakan di pendidikan, dan dengan persentase yang sama mengutamakan di bisnis, perdagangan, dan managemen. Kurikulum universitas dan perguruan tinggi di Amerika Serikat, sangat dipengaruhi oleh kemampuan yang akademis, sasaran sekolah, hasil setiap bidang pendidikan dan kelengkapan/keluasan dari program mereka.
Pada bidang riset di perguruan tinggi/ universitas, ukurannya yang besar adalah mempunyai kemampuan tinggi bidang akademis dan masuk perguruan tingginya dengan kualitas yang baik. Inovasi dan keunggulannya adalah penyediaan kurikulum secara lengkap yang ditawarkan kepada masyarakat. Dan mereka yang berkualitas kemampuan akademis yang berkualitas dan bermakna sangat diprioritaskan dalam rangka memperbanyak riset. Dengan banyaknya penemuan baru melalui penelitian atau riset tandanya mahasiswa mempunyai kualitas yang memadai.
Dalam bab 7 tentang misi dari mahasiswa Societal Needs From dan Individual Report yang dikeluarkan di 1957, kita mencatat 6 tingkatan diantaranya peningkatan pemahaman dari sifat dan tentang dirinya, agar para siswa punya pemahaman berpikir, menghargai gagasan, gaya, membentuk penilaian tentng nilai, kemampuan untuk dipercaya, mendasari kemampuan, menetapkan dan membentuk pondasi yang harus dibangun, pengalaman dari berbagai jenis pengalaman yang intelektual serta luas dan mendalami pada suatu bidang tertentu, dan di tingkat dengan sepenuhnya spesifik,, kita mempunyai program yang tertentu para siswa mengambil.
Inovasi dan keunggulan sangat terlihat dari standard pendidikan mahasiswa: (a) Mampu berpikir dan menulis dengan jelas dan efektif, mampu berkomunikasi dengan ketepatan, keyakinan, dan kekuatan. (b) Mempunyai suatu penghargaan pemahaman dan pengetahuan dari alam semesta, dari masyarakat, dari diri sendiri paham mathematik, ilmu pengetahuan biologi dan phisik. (c) Mempunyai perasaan/pengertian tentang kultur lain. (d) Mempunyai pemahaman berpikir tentang, moral dan permasalahan etis. (e) Tahu adat dan menjunjung tinggi etika dan standard moral. (f) Mempunyai kedalaman dalam beberapa bidang pengetahuan.
Dalam bab 8 tentang pendidikan umum inovasi dan keunggulannya adalah bahwa perguruan tinggi menyediakan pelajaran yang lengkap seperti membangun ketrampilan, distribusi waktu untuk ilmu pengetahuan, ilmu sosial, dan seni, mengintegrasikan pelajaran dalam cara-cara pemahaman yang luas.
Dan dalam dunia pendidkan sangat diprioritaskan, ini terjadi karena menyadari akan kebutuhan ketrampilan, karena masa depan ingin lebih baik, adanya permasalahan, menjadi generasi yang berkualitas, bisa memahami dan mengambil bagian di dunia. Inilah inovasi dan keunggulan dalam bab 8 diatas.
Sedangkan inovasi dan keunggulan dalam bab 9 tentang cerita penting yang berakhir baik diantaranya adalah bisa terselesaikannya problem institusi yang mencakup jurusan tersedia pada suatu perguruan tinggi akan bertanding tiap-tiap minat siswa, jurusan bertukar-tukar di unsur dan mutu, beberapa jurusan yang tidak punya nilai jelas harus hati-hati. Ini bisa terselesaikan karena perguruan tinggi pindah ke empat arah yang utama yaitu membatasi total jumlah jam yang mungkin diinvestasikan dalam wisuda, mendorong deparemen untuk kembangkan lebih banyak kursus, mendorong pengembangan dari dua pilihan yang utama pada setiap departemen, menyediakan lebih banyak peluang untuk para siswa untuk mengambil jurusan yang ganda, (pelajaran) pelengkap, interdisciplinary jurusan. Maka inilah inovasi dan keunggulam dalam bab 5-9 buku tentang MISSIONS OF THE COLLEGE CURRICULUM A Contemporary Review With Suggestions.
c. Kemungkinan apabila diterapkan di Indonesia adalah :
1. Indonesia akan maju dan cerdas karena totalitas pendidikan benar-benar diterapkan.
2. Sumber daya manusia bisa diberdayakan secara maksimal, sehingga akan banyak bermunculan para ahli dalam bidangnya masing-masing dan banyaknya penelitian yang menghasilkan ilmu baru.
3. Potensi alam di Indonesia akan bisa dimanfaatkan secara maksimal, sehingga kesejahteraan rakyat Indonesia akan terjamin dan dapat meratanya perekonomian di Indonesia.
4. Sarana dan prasarana ditunjang dengan pendanaan yang mencukupi akan membuat mutu pendidikan lebih baik dan majudemi mencerdaskan generasi muda Indonesia.
5. Para pemimpin bangsa Indonesia akan berubah menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, disiplin, berwibawa dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Ini semua karena dibentuk dari sekolah unggul, dan kurikulum yang tepat dan sesuai dengan masyarakat pengguna baik secara langsung maupun tidak langsung.
6. Akan menjadi lebih wibawa dan penuh etos kerja yang tinggi semuanya berawal dari proses pendidikan yang berkulitas.
7. Tenaga guru dan kepala sekolah akan dengan giat bekerja dan mengajar, karena fasilitas dan alat-alat pembelajaran cukup memadai.
8. Tersedianya fasilitas jurusan yang lengkap, sehingga masyarakat pengguna jurusan dapat memilih sesuai dengan hati nurani yang luhur, dan tetap menjaga kualitasnya.
.
June 17th, 2010 at 3:06 pm
memang….!, walau bagaimanapun permasalahan pendidikan kita tak pernah habis habisnya. semakin berkembang dan maju peradaban manusia, semakin kompleks pula masalah yang dihadapi, tak terkecuali pendidikan. so yang menjadi tugas kita bersama adalah terus mencari solusi terbaik dari setiap permasalahan yang ada…..,
masih yah buat artikel-artikelnya…!!!
July 5th, 2010 at 12:23 pm
Artikel yang menarik, memberikan gambaran secara overview mengenai masalah pendidikan di Indonesia. Silahkan lihat di link berikut http://fendoparama.blogspot.co.....-iiic.html, untuk membagikan pengalaman saya mengenai “kerusakan fasilitas sekolah” yang terjadi di Papua.